Blog ini adalah tempatku mencurahkan segala isi hati dan pikiranku. Menjadikanku orang yang kreatif dan terlatih.. Dan mendapatkan beragam ilmu yang akan membuatku semakin kaya..


“Tidak ada pekerjaanmu yang becus !!!!”.

Suara seorang lelaki terdengar begitu keras menghardik kepada seorang wanita yang sedang melakukan pekerjaannya di dapur.

Entah berapa lama si pria tersebut mengungkapkan kemarahannya dengan nada suara yang tinggi.

Si Wanita awalnya diam namun karena merasa selalu disalahkan dan jerih payahnya tidak pernah dihargai, dia berusaha menjelaskan bahwa semua bukan semata-mata hanya kesalahannya.

Kejadian yan sebenarnya tidak perlu “dibahas” dengan suara keras dan kata-kata menyakiti hati. Awalnya celana jeans yang sedang dikenakan oleh si suami terkena kotoran sang anak yang berusia 1 tahun 5 bulan. Celana tersebut kemudian dimasukkan sendiri oelh sang suami ke ember pakaian kotor.

Sang istri yang sedang membersihkan rumah, berinisiatif merendam celana tersebut celana tersebut agar tidak bau. Dari situlah awal keributan terjadi. Ternyata dompet sang suami masih ada di kantong dan akhirnya basah karena direndam. Mengetahui hal tersebut suami mulai marah-marah.

Tiba-tiba kemarahan antara mereka dipecahkan oleh tangisan pekikan dari seorang anak kecil, ternyata si bayi terjatuh karena menginjak air yang tumpah di lantai akibat tetesan air dari celana jeans ayahnya.

“Lihat anakmu itu !!!” Hardik sang suami dengan memasang wajah garang.

Sang ibu mendekati anaknya dan membawa dalam gendongan. Sang anak meminta ASI dan dalam dekapan ibunya si anak memandang wajah ibunya serta membelainya. Saat sang Ibu membisikkan kemarahannya, si bayi menutup mulut si ibu dan kemudian mencium dengan bibir mungilnya. Seakan-akan sang anak meminta ibunya berhenti untuk mengungkapkan kemarahan dan sakit hati yang disebabkan sang ayah.

Beberapa saat setelah kejadian itu, si ibu memandika anaknya sementara si suami sedang keluar rumah setelah meminta maaf kepada istri. Dia menyadari kesalahannya yang sudah mengungkapkan kata-kata menyakitkan kepada istrinya. Sang istri yang sudah sangat terluka berusaha memaafkan suaminya namun bayangan segala kemarahan sang suami dan tingdakan yang sering tidak menghargai jerih payahnya bekerja di kantor dan mengurus runah tangga tanpa bantuan asisten rumah tangga sangat mengganggu akal pikirannya. Rasa sakit yang sangat dalam, sampai tidak mampu lagi membuatnya meneteskan air mata dan dia tidak mampu merasakan getaran cinta lagi dalam hatinya.

Sambil mendandani anak sang istri merasakan ada gemuruh dalam dadanya, hatinya sangat hampa dan tanpa semangat. Tiba-tiba, prak…. berbagai isi tas kecil ibu tempat alat tulis yang ada di tas kantornya telah berserakan di lantai. Bagai kesetanan sang istri berteriak menghardik sang anak yang langsung kaget dan bingung dengan ibunya. Bagai setan yang sedang menguasai dirinya, dilayangkan tangannya ke tangan mungil dan kaki mungil si gadis cilik di hadapannya. Spontan si anak menjerit dan menangis seperti orang shock. Bagai kehilangan kendali sang ibu berteriak – teriak ke anaknya. Tangis sang anak semakin keras dan akhirnya dia sesegukan seperti orang yang kesusahan bernafas sambil terputus-putus memanggil :“Ma..ma…mama..ma..ma..”
Tangan kecilnya berusaha menggapai sang ibu…

Sang ibu yang tersadar dengan apa yang sudah dilakukannya kemudian memaki diri sendiri sambil menampar pipinya berulang kali… Dia merasa sangat berdosa dan tidak pantas bagi anaknya.. Sang anak yang masih sangat kecil kemudian mengapai tangan ibunya dan memegang seakan menyuruhnya berhenti untuk menyakiti diri sendiri… Sang anak menangis sesegukan, sang ibu menangis menyesali diri.
Didekapnya sang buah hati yang sudah disakitinya… Diciumi wajah, tangan dan kaki yang baru saja merasakan sakitnya pukulan sambil memohon maaf… Sang anak yang sudah berhenti menangis namun masih sesegukan kemudian menggapai wajahnya dan menjatuhkan dirinya ke pelukan sang ibu sambil meminta ASI.

Sambil berurai air mata sang ibu menyusui anaknya.. Ada rasa penyesalan luar biasa dalam dirinya.. Dipandangnya wajah mungil yang sedang menikmati ASI sambil sesekali terdengan sisa sesegukan dari bibir mungilnya. Saat mata mereka bertemu, perasaan si ibu semakin tertekan melihat sinar mata sang anak yang memandangnya dengan rasa kasih sayang, sedih dan takut.

Sang ibu berteriak dalam tangisnya, “Tuhan… apa yang sudah kulakukan ? Ibu macam apa aku ini yang sudah tega menyakiti anakku sendiri dan melampiaskan amarahku padanya ? Ibu kejam apa aku ini yang lebih peduli dengan tempat pensil yang jatuh daripada rasa sakit yang dirasakan tubuh anakku dan bathinnya yang sudah kulukai ?”

Kembali dipandnagnya sang anak dan pelukannya kian erat.. Dicium kembali wajah anaknya dan dibisikkan “Maafkan mama, anakku.. Mama gagal menjadi orang tua yang baik bagimu.. Mama bagaikan setan yang sangat jahat kepadamu.”

Sang anak memeluk sang ibu dan terpancar ketulusan dari wajahnya bahwa dia tidak membencinya.. Atau mungkin karena sang anak masih sangat suci dan polos, dia hanya tahu bahwa wanita yang sedang memberinya ASI adalah ibu yang selalu disayanginya…

setelah kejadian itu, sang ibu dibayangi rasa bersalah dan berdosa yang luar biasa. Saat anaknya tertidur dibelainya sang anak dan kembali diciumi kaki serta tangan yang telah merasakan pukulannya. Dibisikkannya ke telinga sang anak “Maafkan mama anakku, ajari mama untuk menjadi orang tua yang sabar dan lembut”

Namun semua sudah terlanjur terjadi, sang ibu selalu dikejar rasa bersalah dan ketakutan akan merusak mental dan pribadi sang anak. Sang ibu terlalu rapuh sehingga sempat berpikir ingin mengakhiri hidupnya karena takut tidak akan mampu menjadi contoh yang baik dan merawat anaknya dengan penuh cinta kasih juga kelembutan.

Yah, si ibu dengan tegas mengatakan pada dirinya sendiri “Jangan Menjadi Setan Bagi Anakmu”

 

Saat ikatan bathin kita menghancurkan segala rasa sesal dan kemarahan

Saat ikatan bathin kita menghancurkan segala rasa sesal dan kemarahan


Pernikahan menjadi satu babak baru dalam hidup yang kujalani. Kehidupan yang biasanya kujalani sendiri dan sesuka hati mau berbuat apapun berubah menjadi satu tahap yang  harus kubagi dengan pasangan hidupku.

22 Desember 2012 menjadi hari bahagia, aku ikrarkan janji sehidup semati dan setia dalam ikatan cinta di hadapan Tuhan. Sahat Marganda Siahaan adalah pria yang menjadikanku tulang rusuk dari Tuhan untuk menyempurnakan hidupnya dan bagiku dia adalah kepala yang Tuhan berikan untuk memimpin bahtera rumah tangga kami.

Sebuah keajaiban dalam kehidupan rumah tangga yang baru kami masuki menjadi kebahagiaan tidak terkira. Sebuah Mujizat yang mematahkan segala teori kedokteran yang sempat membuatku merasa takut dan ragu untuk berumah tangga. Yah, saat manusia hanya bisa menyatakan “vonis” dari ilmu yang dipelajarinya tapi Tuhan akan tunjukkan kuasaNYA melalui perbuatan nyata dan Keilahian.

Tanpa perlu berlama –lama menikmati yang namanya masa-masa berdua sebagai pengantin baru, Tuhan ajarkan kami untuk mempersiapkan diri menjadi orang tua. Tanpa ada tanda-tanda atau rasa apapun kujalani hari-hari seperti biasa dan menikmati tiap makanan dan minuman apapun sesuka hati tanpa kusadari dalam rahimku Tuhan telah mempersiapkan sebuah janin yang siap berkembang.

Saat menyadari ada sesuatu yang bertumbuh dalam rahimku tak terkatakan rasa bahagia, takjub, sedikit khawatir dan haru yang kurasakan. Merasakan mujizat nyata rumah tanggga baru kami membuat sujud syukur dalam doa yang tak terkira. Menjalani hari-hari di awal kehamilan menjadi saat mendebarkan bagi kami, perasaan was-was selalu menghampiri. Tapi semua akan terkalahkan saat menyadari bahwa Tuhan menitipkan janin dalam rahimku maka Tuhan juga pasti akan pelihara.

Bukan perjalanan yang sangat mulus kami lalui dalam meniti hari, minggu dan bulan bersama janin yang kian berkembang. Di tengah senyum, rasa dan tawa bahagia sempat terselip tangis dan khawatir. Saat usia kandungan memasuki empat bulan entah virus darimana tiba-tiba aku dihinggapi virus herpes yang tersalurkan dari udara atau lingkungan sekitar. Mengggunakan teknologi informasi yang serba internet aku mencari-cari infonya, namun yang ada aku semakin terpuruk dalam kekhawatiran akan dampaknya terhadap janin dan calon bayi yang kelak dilahirkan.

Bersyukur memiliki suami yang lebih rasional berpikir, meski dengan hardikan tapi dia mampu kuatkan aku bahwa virus herpes yang menyerang tepi bibirku tidak akan mempengaruhi calon bayi kami karena itu murni terkena dari udara bukan sebab lain. Selain itu, aku didiagnosa positif memiliki asma namun tidak terlalu parah. Hanya disarankan agar sangat hati-hati dan menjada kebersihan lingkungan tempat tinggalku dan berhati-hati terhadap polusi udara yang tidak bersahabat karena ada kemungkinan calon bayiku bisa terkena asma.

Namun segala kekhawatiran dan air mata akan hilang tak berbekas saat kami akan bertemu calon bayi meski baru sebatas dari hasil USG. Aku masih ingat USG bulan keenam, calon bayi kami tampak mengarahkan wajahnya ke arah alat USG dan ada dokter mengatakan bayi kami tersenyum. Luar biasa sekali rasanya saat itu. Rasa tidak sabar akan selalu menggelitik saat melihat hasil USG.

Semuanya semakin terasa luar biasa saat merasakan  gerakannya yang aktif. Saat tendangan dari kaki mungilnya menyentuh dinding rahimu atau menerka-nerka apakah yang sedang menonjol adalah kepalan tangan atau kepalanya. Saat kami bernyanyi atau mengajak berbicara selalu ada respon yang sangat aktif seakan-akan calon bayi sudah mengerti semua yang kami sampaikan. Dan itu semua membuat rasa tidak sabar untuk segera bertemu.

Memasuki bulan Agustus tahun 2013 kehamilanku semakin besar dan gerakan semakin lambat. Berat badanku sudah naik 12 kg dari berat badan normal, kaki sudah sering bengkak dan kram dan nafas semakin sesak. Tapi masih ada sekitar satu bulan lagi untuk  bertemu dengan calon bayi yang dari hasil USG berjenis kelamin perempuan. Sebuah nama sudah kami siapkan, Alessandra yang berarti Pelindung, Pembela Manusia atau Orang Baik. Satu lagi Safa sebagai singkatan dari nama Sahat dan Farida. Persiapan untuk menyambut kelahirannya masih sebatas keperluan pakaian saja karena masih ada waktu yang cukup untuk kebuituhan lainnya. Mental dan fisik yang lebih kupersiapkan. Selain itu kami juga  masih berusaha untuk menyiapkan dana untuk proses kelahiran yang tidak sedikit.

Aku hanya memikirkan proses kelahiran normal karena sejak usia 6 bulan bayiku sudah berada di posisi yang tepat di jalan keluarnya. Benar-benar kehamilan yang menyenangkan dan bagiku sangat mengerti kondisi orang tuanya karena tidak satupun permintaan yang aneh pernah dinginkan melalui istilah ngidam. Setiap hari kami berdua selalu menumpangkan tangan diatas perutku saat berdoa dan menyampaikan nasehat-nasehat kepada calon bayi.

18 Agustu 2013 pukul 02.30 wib aku terbangun karena perutku terasa mulas. Aku merasa sangat kesakitan layaknya orang masuk angin. Saat itu yang kupikirkan itu akibat kecapean, beres-beres rumah seharian dan kebanyakan di air dengan pakaian basah sampai mengering di badanku. Seteleh kucoba ke kamar mandi dan ternyata tidak terjadi  apa-apa, kucoba kembali tidur. Pukul 05.00 wib aku terbagun lagi dan coba ke kamar mandi lagi. Hasilnya sama saja, tidak terjadi apa-apa. Pukul 07.00 wib kembali aku terbagun dan ke kamar mandi lagi. Diantara mata yang masih mengantuk tiba-tiba aku tersentak karena aku lihat ada sedikit flek. Langsung kubanguni suami dan menghubungi kakakku. Mereka mengatakan itu hal biasa karena usia kandunganku yang sudah semakin mendekati bualn persalinan.

Namun rasa mulas semakin menjadi-jadi. Akhirnya diputuskan memanggil bidan tua yang buka praktek di rumahnya. Setelah beliau datang, diceklah dan ternyata pembukaan  satu. Aku merasa tidak percaya dan bingung karena belum saatnya melahirkan. Tiba-tiba rasa was-was menghinggapiku. Aku takut sesuatu terjadi saat melahirkan dan juga memikirkan biaya yang belum terkumpul sebanyak yang kami butuhkan untuk proses persalinan normal di rumah sakit.

Rasa sakit, mulas dan kram semakin intens menyiksaku dan namun belum ada tanda-tanda bertambahnya pembukaan jalan keluar calon bayi. Semalaman aku merasakan sakit yang tak terkatakan. Hingga akhirnya aku meminta bersiap-siap di tempat praktek bidan saja. Untuk mencapai rumah sakit tempat biasa kontrol sudah tidak sanggup lagi. Selama di klinik aku diberikan suntikan perangsang untuk menambah bukaan dan dipancing pecahkan air ketuban. Namun belum ada juga tanda-tanda calon bayi bergeser mendekati jalan keluar. Sampai akhirnya suntian ditambah dan pembukaan sudah mencapai kesepuluh serta air ketuban pecah sendiri, namun calon bayi masih bertahan di posisinya.

Segala cara dibuat untuk “membujuknya” agar mau keluar namun lai-lagi dia tak bergeming sedikitpun. Aku mulai menyerah dan sudah sangat letih. Mendengar hal itu suamiku marah dan mnyuruhku bangun untuk berjuang lagi. Entah berapa kali aku hampir “meyerah” pada rasa ngantuk yang tiba-tiba menyerang, padahal pesan dari orang-orang yang sudah terlebih dahulu melahirkan aku harus melawan rasa ngantuk itu karena akan sangat berbahaya saat aku tertidur.

Bidan  dan asisten rumah tangganya yang membantu proses persalina sudah mulai menyerah dan menyarankan agar kami ke rumah sakit saja karena dia lihat sudah mulai beresiko.  Mereka khawatir air ketuban akan semakin habis dan kelihatannya posisi bayiku sudah terjepit. Namun aku minta sekali lagi diberi kesempatan untuk berusaha melahirkan bayiku saat itu juga. Akhirnya bidan asistennyanya memutuskan untuk mendorong bayi  dari permukaan perutku dan kubantu dengan mendorong sekuat tenaga dengan cara mengedan.

Saat itu aku benar-benar sudah hampir menyerah dan merasa hanya tinggal sekali itu saja tenaga terakhirku. Dengan menyebut nama Tuhan, kukerahkan seluruh tenaga sampai aku merasa sudah tidak sanggup dan lemas. Aku sudah tidak tahu harus bagaimana lagi karena tenagaku sudah terkuras. Sesaat kurasakan ruangan hening dan mataku terpejam dalam kelelahan yang luar biasa. Namun kukuatkan diri untuk mencoba lagi. Saat aku akan mengedan kudengar bidan berteriak, “hentikan, bayimu sudah keluar.”

Suasana hening terpecahkan dengan tangisan serak bayi merah yang baru saja meluncur dengan sendirinya dari dalam rahimku. Saat itu bidan, asistennya dan suamiku tidak sedang siaga jika bayi akan keluar. Sunggguh ajaib, bayiku seperti terdorong sendiri dari rahimku. Beruntung saat itu asisten bidan dengan sigap menangkap kakinya karena dia hampir terjatuh dari alas temat tidur yang sudah sangat licin dibasahi oleh air ketuban dan darah. Aku merasa masih bermimpi, kubuka mataku dan kulihat suamiku menangis lalu memelukku. Yah, bayi cantik kami telah lahir dengan bobot 3,1 kg dan panjang 47 cm.

Rasa letih yang sangat luar biasa menyergap jiwa dan ragaku, yang perjuangan selama 24 jam 30 menit sudah berakhir dengan bahagia. Dengan sigap si asisten memberiku teh manis sementara bidan sedang membersihkan bayiku. Setelah dibersihkan, bayiku diletakkan disampingku. Rasanya tidak percaya saat kulihat bayi mungil itu seolah-olah memandangku.. Aku belai pipinya, ingin merasakan bahwa itu adalah nyata. Lalu kupeluk bayiku sambil kupejamkan mata kubisikkan “Selamat datang anakku, Alessandra”. Lalu kubisikkan doa ke telinganya. Senin, 19 Agustus 2013 pukul 03.30 wib, Alessandra Safasere boru Siahaan menyempurnakan kebahagian kami.

Tidak ada air mata yang menetes dari kedua mataku saat itu selain rasa takjub dan bersyukur. Aku juga sangat berterima kasih kepada bayiku karena dia menjadi kekuatan bagiku untuk melalui saat-saat kurang menyenangkan selama kehamilan. Yang terutama bayiku sangat luar biasa karena dia mampu bertahan dalam segala hambatan yang sempat kutemui dan yang terutama selama dalam kandungan sampai kelahirannya, bayiku seolah-olah memahami kondisi orang tuanya.

Alesaandra Safasere adalah nama yang kami berikan dan juga ompungnya. Bapakku memberikan nama Sere yang berarti emas. Aku berdoa anakku akan bertumbuh menjadi orang baik yang merupakan kekayaan serta kehormatan orang tuanya. Bertumbuh dan jadilah anak yang takut akan Tuhan, anakku.. Kami sangat menyayangi dan bangga memilikimu…

**Catatan kecil untuk Alessa, suatu saat kamu akan mengetahui awal perjalanan hidupmu di dunia ini dan akan kita tuliskan lembar demi lembar perjalanan hidupmu..We love u, Alessa. God bless you”

Sesaat setelah Alessandra Safasere Siahaan terlahir.. Bks19082013.03.30wib.3,01kg47cm

Sesaat setelah Alessandra Safasere Siahaan terlahir.. Bks19082013.03.30wib.3,01kg47cm

Terlalu Lama


Sudah sangat lamaaaaa sekali tidak melihat rumah mungilku ini.. Sudah sangat banyak semak belukar, catnya mulai mengelupas dan tampak suram… Banyak hal baru yang kualamai dan rasakan tidak lagi kujadikan sebagai hiasan di rumah mungil ini..

Tunggu saatnya, aku akan membenahi kembali rumah mungilku ini dengan berbagai keceriaan.. Hingga suatu saat nanti anak cucuku dapat mewarisinya tanpa harus bertengkar…


Dalam keheningan malam, suara hujan dan petir saling bersahutan..
Seakan ingin memecah dinginnya malam.
Memberi riuh yang tak rela dibekap sang gelap.
Detak jam bak denyut nadi kehidupan yang terus berlalu
Seolah memberi tanda untuk segera terlelap di peraduan, bermain di alam mimpi sepanjang malam.

Namun aku masih terjaga, mataku enggan diajak terpejam..
Diriku masih tetap setia dalam bisu yang menyatu dengan sang malam.
Hanya alunan lembut sang nada ditingkahi melodi titik hujan di luar sana.

Aku hanya terdiam dan mencoba peruntungan dapat terlelap.
Malam ini masih tetap seperti malam yang lalu, rasa enggan untuk menyudahi hari masih kuat mengikat.
Anganku menembus pertahanan yang selalu ku jaga erat.
Saat bibir tak mampu berucap, hanya hembusan nafas yang terasa berat.

Aku menyapa sang Pencipta Kehidupan,
Bertanya tentang perjalanan hidupku…
Berusaha mencari jawaban atas tanya ku tentang takdir.
Tapi hanya hening yang kudapat tanpa ada jawab yang pasti.

Menghitung mundur sang waktu, mengingat tiap perjalanan yang kulalui.
Pahit dan manis silih berganti menemani.
Tawa dan air mata terpadu dengan sempurna.
Melahirkan berbagai rasa dan getir.
Tanpa pernah mau berkompromi..
Yang datang tanpa ijin dalam hidup yang kumiliki.
Menguasai hati dan benakku dengan sombongnya..

Sepi itu kian merasuk dan kuat menguasai jiwa.
Kembali angan melayang ke masa lalu.
Dua kalender terlewati tanpa ada cerita cinta di dalamnya.
Kerinduan yang berontak hanya dapat dipendam sendiri…
Kemarahan dan senyum kecut kerap terlontar dari bibir,
Demi menahan rindu yang selalu bernyayi dalam kalbu.
Seakan masih membutuhkan dia yang telah beranjak jauh dan hanya meninggalkan serpihan kenangan.

Hatiku mulai menggelitik saat berhadapan dengan cermin jiwa..
Seperti air bah yang meluap dan mampu menghantam batu karang…
Seraut wajah yang terlukis dalam benak merajai ruangku tanpa batas..
Dingin dan penuh misteri yang ingin disibak..
Mengusik titik diamku, menjamah relung hati yang lama membeku.
Ada kehangatan yang mengalir…
Mencairkan bukit es yang lama berdiri kokoh.
Membentang jembatan yang terpisahkan oleh jarak….

Adakah dia yang akan memberi warna baru lagi dalam hidup ?
Atau seperti yang lalu, hanya mampir sekejap dan berlalu begitu saja tanpa rasa.
Mengguratkan sesal dan muram di wajah..
Membawa sebentuk rasa yang mulai tumbuh…
Meninggalkan tanya tanpa jawaban pasti…
Masih sanggupkah melewati satu cerita lagi ?

Atau akan tetap berpelukan dengan rasa takut..
Menjaga tidak ada sakit yang akan menghampiri hati..
Memilih hanya diam dan kembali bersahabat dengan sepi…
Tanpa pernah memberi kesempatan pintu itu terbuka…
Entahlah…….

sepi
*hujan di malam ini..bsd, 18012012 : 00 13*


17 April menjadi hari spesial bagi dirimu,
Hari penuh perjuangan antara hidup dan mati seorang wanita mulia yang disebut “Mama”.
Dan..perjuangannya berhasil.. Seorang bayi mungil terlahir melengkapi bahagia keluarga yang penuh kasih.
Semakin istimewa karena tepat hari itu seorang sudara tertuamu juga merayakan hari kelahirannya…
(Namun, ditengah jalan kehidupannya, Tuhan memanggil di usia yang masih muda)

31 tahun telah berlalu..
Banyak warna kehidupan yang telah kau lalui..
Suka dan duka silih berganti mewarnai hidupmu.
Menorehkan banyak cerita yang menjadikanmu sosok yang keras, tekun, berwibawa dan kadang dingin.
Namun dibalik semua itu, sebuah kelembutan dan cinta tersimpan rapi untuk orang-orang yang kau kasihi.

Tahun ini terasa lebih istimewa dan dirimu mendapatkan hadiah luar biasa dari Tuhan..
Sesosok janin yang terus bertumbuh menjadi bayi tengah berkembang dalam rahimku..
Ya, kita akan segera menyambut kelahiran buah cinta.
Karunia yang sangat kau syukuri dan membuat hari ulang tahunmu semakin penuh sukacita.

Tengah malam menyambut hari jadimu, sebuah kejutan kecil kami persembahkan..
Membangunkanmu tepat pukul 00.00 Wib dan mempersembahkan sebuah cake yang berhias lilin membuatmu seperti bermimpi.
Kami berdua tidak akan bertanya permintaan yang kau sampaikan pada Sang Pencipta karena kami yakin itu adalah doa terbaik untuk dirimu dan keluarga kita.

Melihat binar bahagia di sinar matamu cukup membuat kami merasakan sukacitamu..
Sebuah gitar sederhana turut memeriahkan hari lahirmu, karena aku tahu dirimu sangat ingin melantunkan senandung-senandung indah buat calon anak kita.

Banyak hal yang ingin kami sampaikan tapi diatas semua cinta kami akan selalu bersamamu..
Dan aku yakin itu lebih dari apapun..

Selamat ulang tahun Hasian..
Selamat ulang tahun Papa..
Panjang umur dan sehat selalu..
Semoga Tuhan memberimu kedewasaan dan kebijakan dalam memimpin keluarga kecil kita.. Semakin sempurna dirimu bagi orang-orang yang ada disekitarmu..

Tetap menjadi sosok Pria hebat dan penuh tanggung jawab serta penuh semangat meski apapun kita alami..Karena yakinlah, Tuhan pasti akan memberi semua indah pada waktunya.
Tetap menjadi yang terbaik dan bersahaja.. Kami sangat meyayangi dan akan selalu membutuhkan cinta Papa.. Kami bangga pada Papa dan akan selalu bersyukur untuk cinta kita…

Tuhan menyertai Papa..Selamanya…

Our love

Our love


Hari ini genap 28 tahun peringatan kelahiranmu…
Memasuki tahun ke 12 tanpa lilin, potongan kue, makanan kesukaanmu.
Tanpa ucapan selamat saat menyalam erat tanganmu dalam kesederhanaan yang selalu menjadi ciri khasmu..

Hanya sebuah doa yang terucap..
Sebaris kata kubisikkan melalui udara dan melewati langit..
Berharap malaikat surga menyampaikannya kepadamu..

Khayalanku, sebaris senyum tipis dan wajah malu-malu yang dulu selalu hadir saat ucapan selamat menghampirimu..
Wajah tertunduk dan tangan yang terjulur tanpa jabatan erat darimu…

Sosok tinggi, kurus, kulit putih, rambut ikal hitam lebat dan sikap pemalu menjadi satu dalam pribadimu..

Senyuman tipis yang sangat “mahal” namun sebenarnya membuat dirimu bertambah tampan menjadi ciri khas yang melekat kuat hampir 16 tahun dalam perjalanan hidupmu yang singkat…

Kerinduan itu kembali menyeruak..
Aku tersenyum saat seraut wajahmu melintas dalam benakku..
Ada rasa hangat mulai membasahi pelupuk mataku..

Tapi percayalah…
Ini bukan kecengengan atau kedukaanku seperti waktu lalu..
Semua ini ungkapan kerinduan yang tidak dapat tercurahkan untuk memelukmu dengan erat…

Aku rindu untuk menggenggam erat tanganmu dan mengucapkan “Selamat Ulang Tahun, adekku Brata”

Adakah perayaan di Surga sana ?
Tersenyum dan menari gembiralah bersama para Malaikat…
Kami akan selalu mengenangmu, selamanya….
Sampai kita berkumpul kembali di keabadian….

Aku yakin, dirimu turut bahagia melihat cinta dan kasih sayang menyatukan keluarga kita selamanya..
Juga kebahagiaan baru yang akan segera kusongsong…

Jauh dalam lubuk hatiku, ada kesedihan membayangkan seandainya dirimu hadir di hari bahagiaku..
Tapi itu semua hanya asa yang terbang bersama angin…
Hari pernikahan yang akan kujelang menjadi kado terbaik untukmu…

*Selalu mengenangmu dalam kasih dan kerinduan, 27 November 1984 – 04 Juni 2000*

—Bks, 27112012… 04:20 Wib—

Brata


Kembali mengenang cerita lama tentang proses kelahiranku di rumah jalan Siliwangi No. 2A Balige yang ditangani ompung boru (nenek) yang merupakan ibunda dari Bapakku dan dua perawat dari RS HKBP Balige…

Aku terlahir sebagai anak kedua dari enam bersaudara (namun sekarang tinggal lima..Bahagialah di Surga adekku Brata)..

Anak perempuan kedua dan sekaligus paling kecil secara gender di kumpulan bocah Bapak dan Mama…

Ada cerita menarik dan lucu mengawali kehadiranku untuk menjadi Penghuni baru di muka bumi ini… Cerita yang sudah sering kali kudengar dan membuatku merasa geli dan tak jarang jadi bahan ledekan di keluarga…

Ceritanya diawali dengan harapan Bapak saat mengetahui Mama sedang mengandung anak kedua dengan jarak kehamilan yang tidak terlalu jauh dengan kakak ku..

Sejak baru berumah tangga Bapak selalu berharap anak pertamanya adalah seorang anak perempuan yang nantinya bisa mengayomi adik-adiknya dan bisa membantu orang tua.. Ternyata Tuhan mengabulkannya..

Bapak dan Mama dikarunia bayi perempuan yang cantik, putih dan tidak rewel..

Berlanjut dengan kehamilan kedua, Bapak berharap akan mendapatkan anak laki-laki sebagai penerus marga dan pastinya jagoan cilik keluarga kecil Tangkas Simanjuntak.. Sebuah harapan yang besar dan pastinya dinantikan dengan sukacita..

Pada tengah malam Mama mulai merasakan kontraksi.. Namun menurut cerita Mama tidak terlalu sakit seperti kelahiran sebelumnya..

Mama memberitahukan Bapak agar siap-siap diantara kantuk yang sedang menderanya..

Dapat kubayangkan bagaimana beratnya harus terbangun tengah malam dengan udara dingin di kota kelahiranku.. Pastinya rayuan selimut jauh lebih menggiurkan..

Entah karena masih ngantuk dan letih, antar sadar tidak sadar Bapak mulai menghidupkan bara arang yang biasa diletakkan di bawah dipan tidur para ibu yang melahirkan.. Menurut kebiasaan di kota ku, bara arang ini akan memberi kehangatan bagi ibu melahirkan yang kehabisan banyak darah sehingga lebih cepat pulih dan tidak sampai mengigil kedingingan akibat kekurangan darah..

Mama yang mulai merasakan kontraksi tiba-tiba merasa kaget karena sekitar jam 03.00 wib, arang sudah terpasang dibawah dipan yang ditiduri.. Hasilnya, Mama mencak-mencak karena diantara rasa sakit harus juga merasakan kepanasan..

Akhirnya dengan terpaksa sang arang pun disingkirkan dulu tapi tidak dipadamkan.. Supaya cepat dapat digunakan lagi begitu sang bayi lahir..

Ompung yang mulai merasakan kewalahan membantu persalinan sendiri akhirnya meminta bantuan dua perawat (suster) dari RS HKBP Balige dan juga maktua (kakak ipar bapak) yang kebetulan berprofesi sebagai bidan..

Selasa, 29 September 1981 pukul 04.05 Wib, sang bayi yamg ditunggu pun lahir.. Dengan berat badan 2,15 kg, suara yang sangat lemah dan hampir tidak terdengar, kulit yang mengkerut dan rada gelap, rambut yang hampir tidak ada, dan sepertinya kesulitan beradaptasi dengan dunia barunya.

Itulah saat pertama sang bayi merasakan udara kehidupan ..

Namun setelah diteliti ternyata sang bayi berjenis kelamin perempuan.. Kondisi fisiknya pun jauh berbeda dari sang kakak..

Bukan bayi laki-laki seperti harapan Bapak.. Dengan sukacita ompung boru (nenek) menyuruh Bapak membawa arang yang dari awal sudah dinyalakan dan dikipasi.. Pada akhirnya barang arang berguna juga..

Mama lega dan bahagia menyambut kehadiran penghuni baru.. Bapak juga bahagia walau tak dapat dipungkiri ada sedikit rasa kecewa karena bukan bayi laki-laki.. Tapi anak tetaplah anak yang melengkapi sukacita orang tua jadi harus tetap disyukuri dan dijaga.. Begitu kata Bapakku..

Mama yang melihat fisik sang bayi sangat kecil mulai merasa sedikit miris.. Bayangan mama saat itu sang bayi bisa jadi tidak bertahan lama karena kondisinya yang lemah dan hanya sebesar botol.. Bahkan tidak terlalu sulit untuk melahirkan saking kecilnya.. Memegangnya pun harus ekstra hati-hati..

Bahkan Mama pernah bercerita, dulu sempat terlintas dipikirannya bisa jadi hidup bayi ini tidak lebih dari dua minggu..

Namun diatas segalanya, tetap saja kehadiran sang bayi disambut dengan tulus.. Bahkan untuk memberikan namanya terdiri dari 3 generasi :

– Ompung boru (nenek mama dari kakek) yang sudah sangat renta dan berumur hampir 90 tahun turut ambil bagian memberi nama Poride yang artinya Por idaon songon udan (terlihat seperti hujan besar yang membasahi bumi.. Artinya, sang bayi kelak akan melihat hal-hal besar dalam hidupnya dan semoga bisa menjadi orang besar yang akan memberi kesejukan seperti hujan membasahi bumi)

Tapi pastinya bukan hujan seperti masa sekarang yang sering membuat banjir..

Namun seiring waktu, Bapak merubahnya menjadi Farida karena lebih familiar.. (Farida, bahasa Arab ; Permata yang paling mahal)

– Anggun, dari Bapak.. Tadinya beliau berharap kelahiran bayi laki-laki namun yang lahir seorang bayi perempuan..

Bapak berharap bayi tersebut akan tumbuh menjadi wanita yang anggun, menarik dan pastinya disukai banyak orang karena pribadinya..

(Tapi ternyata sang bayi bertumbuh menjadi anak perempuan yang tomboy)

– Ompung boru (nenek yang membantu proses kelahiranku) memberi nama Lamris yang artinya merata.. Harapan dan makna dari nama ini kelak akan lahir adik-adiknya berjenis kelamin laki-laki. Sehingga kedudukan anak perempuan dan laki-laki akan seimbang..

Suka cita atas kelahiran bayi tersebut tetap terasa meski ditingkahi banyak kelakuan konyol dan seenaknya si bayi dalam prosesnya bertumbuh menjadi Batita, Balita, Anak Kecil dan Remaja..Mungkin karena sejak dari kandungan diharapkan berjenis kelamin lelaki namun kenyataan terlahir sebagai bayi perempuan maka pembawaannya pun terlihat tomboy..

Fisiknya yang tidak secantik kakaknya sering membuatnya bahan ledekan orang-orang dengan sebutan “Birong (Hitam)”.

Tidak jarang ada saja yang membandingkannya dengan sang kakak maupun adik-adiknya yang kemudian hari bertambah dan berjenis kelamin laki-laki dengan wajah tampan..

Si bayi yang sudah berubah menjadi bocah cilik, mulai merasakan kesedihan.. Tak jarang dia menangis diam-diam dan menjadi sedikit bandel terhadap saudara – saudaranya. Rasa cemburu mulai menghinggapi dirinya.. Juga tidak percaya diri dengan kulitnya yang gelap, rambut yang tipis dan wajahnya yang tidak menarik..

Rasa tidak puas dan tidak adil akan keadaan dirinya dia lampiaskan kepada saudara-saudara dan melawan Mama.. Padahal jika saat itu dia bisa berpikir tenang, pastinya sangat bersyukur memiliki keluarga yang luar biasa.. Orang tua, kakak dan adik-adik yang tidak pernah menyinggung fisiknya, selalu menyayanginya, selalu menjaganya dan menghormatinya sebagai pribadi yang luar biasa.. Betapa beruntungnya dia tetap menjadi anak yang cantik bagi kedua orang tuanya dan saudara yang disayangi oleh kakak dan adiknya..

Yah… Orang lain hanya bisa menilai dan mengolok serta berkomentar karena mereka tidak ada beban untuk melakukannya.. Bisa saja awalnya itu hanya bercanda saja tapi seorang anak tetaplah pribadi yang belum matang untuk memahami semua itu…

Sifat tomboynya sudah terlihat sejak dari kecil.. Kelakuannya juga sering tidak terkontrol, semaunya dan sering ingin tahu sehingga termasuk nekad bereksperimen.. Antara lain, pada saat berumur 3 tahun memukul kepala seorang nenek yang sangat baik dan kerap menggendongnya sejak bayi dengan sapu sampai si nenek yang berasal dari sebuah desa hampir pingsan dan sedikit kapok melihat batita garang itu..Menurut cerita Mama, saat itu sang Balita sedang menimang-nimang sapu dan tiba-tiba menguji kekuatan sapu tersebut…

(sekitar 2 tahun lalu sang nenek sudah meninggal namun menurut cerita Mama, beberapa bulan sebelum meninggal si Ompung Boru korban Pemukulan sapu tiba-tiba menanyakan keadaan Batita garang tersebut.. Sudah seperti apa rupanya ? sudah menikah ? dan apakah masih garang ?) 😀

Selain itu selalu ingin menguasai dengan paksa sarapan kue onde-onde dan teh manis sang kakek lalu memain-mainkannya sehingga membuat kakek mencak-mencak.

Hal ini karena kakek yang memang sangat dihormati dan dilayani bak seorang Raja memiliki peralatan makan dan kursi kebesaran sendiri dimana tak satu orang pun seenaknya bisa memakai atau meminjam..

Setiap pagi dipastikan dulu melakukan “sweeping” terhadap bocah cilik yang baru belajar merangkak dan memanjat ini.. Jika tiba-tiba dia muncul dan mulai menarik celana sang kakek yang dikenal sangat rapi maka dapat dipastikan sang Mama akan dipanggil untuk segera mengamankan si bocah..

Banyak cerita lucu bahkan konyol terjadi dalam kehidupannya.. Bahkan dengan pertumbuhan fisiknya pun sangat menggelikan..

Kulitnya yang gelap berbanding terbalik dengan sang kakak yang merupakan bocah perempuan sangat cantik dan putih mulus..

Rambutnya yang hampir tidak ada membuatnya pernah terpilih sebagai penari “cadangan” di Taman Kanak-Kanak untuk menggantikan penari laki-laki..

Jika sang kakak menari dengan rok, rambut dikuncir dengan pita warna oranye dan make up tipis maka sang Penari cadangan berpenampilan dengan dasi kupu-kupu dan celana panjang oranye..

Mulai diakui sebagai bocah perempuan saat duduk di kelas B Taman Kanak-Kanak sebagai putri Dayak.. Tapi tetap dengan rambut yang sangat tipis dan pendek..lengkap dengan ompong dan wajah garangnya..

Memasuki masa kanak-kanak dan remaja juga tetap menjadi pribadi yang tomboy.. Menyukai olah raga keras seperti bela diri, petualangan yang memacu adrenalin dan memiliki teman berjenis kelamin pria jauh lebih banyak dari wanita..

Beruntung dia masih hobby memasak dan mendapat ajaran ketat dari orang tua untuk mampu melakukan pekerjaan rumah tangga.. Setidaknya itu yang dapat mengurangi sifat tomboynya.. Dan selalu berpegang teguh pada “Peringatan” Sang Mama yang selalu mengatakan bahwa seorang anak perempuan yang tidak pandai memasak dan mengerjakan perumahan rumah tangga akan dikembalikan mertuanya…

Peringatan yang mapan untuk membuatnya sadar bahwa suatu saat nanti di KTP yang tercantum adalah jenis kelamin Perempuan.. (Padahal kalau dipikir-pikir saat sekarang ini, tidak beralasan sekali peringatan ala Sang Mama.. Trik yang jitu dan berhasil menjadi doktrin menakutkan bagi anak gadisnya..)

Sejalannya waktu, banyak cerita suka dan duka dia lalui.. Membuatnya kian banyak belajar tentang hidup, arti dirinya di muka bumi ini dan pastinya bersyukur untuk kesempatan melakukan Perjanjian Kehidupan di muka bumi ini dengan Sang Pencipta..

31 tahun sudah waktu menjadi sahabat abadinya.. Tiap-tiap tahun berjalan menandai satu fase kehidupan yang kulalui.. Semakin naik kelas dalam menjalani kehidupan dengan segala tangtangannya..

Melewati tiap tahapan usia selalu dengan ucapan syukur..

Banyak cinta dan orang-orang luar biasa hadil dalam cerita kehidupannya. Dan semua mempunyai arti tersendiri..

Harapan dan sukacita selalu terucap diperalihan usia yang kian matang..

Menyenangkan rasanya melewati masa demi masa.. Dimulai dari berupa sel telur, janin, orok, bayi, batita, balita, anak, remaja dan sekarang wanita dewasa..

Sungguh karunia luar biasa..

Terima kasih untuk usia yang semakin membuat kerut halus di kelopak mata mulai terlihat..

Terima kasih buat semua kekasih hatiku yang selalu setia bersamaku dalam suka dan duka..

29 September 2012 menjadi salah satu hari istimewa di hidupku…Karena sang bayi perempuan itu adalah diriku yang saat ini sangat mensyukuri tiap fase kehidupan yang luar biasa…

Metamorfosisi seorang Farida Anggun Lamris Simanjuntak

Metamorfosisi seorang Farida Anggun Lamris Simanjuntak

Awan Tag

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.595 pengikut lainnya