Blog ini adalah tempatku mencurahkan segala isi hati dan pikiranku. Menjadikanku orang yang kreatif dan terlatih.. Dan mendapatkan beragam ilmu yang akan membuatku semakin kaya..

Kalian Tidak Akan Mengerti

Beberapa hari ini, ada kegalauan yang merajai hatiku.. Bukan masalah pekerjaan karena aku sangat menyukai pekerjaan dan kesibukanku saat ini.. Bukan juga masalah percintaan karena aku punya banyak cinta dari keluarga dan sahabat-sahabatku.. Bukan juga keinginan akan materi karena aku bukan jenis manusia yang selalu ingin ini itu..

Kegalauanku ini mulai terasa saat mengikuti aksi bakar diri yang dilakukan sang Pahlawan Revolusioner Sondang Hutagalung.. Bukan mau ikut-ikutan dengan aksinya atau membenarkan aksi berbahayanya.. Tetapi entah mengapa aku bisa memahami aksinya itu.. Aksi yang didasari rasa tidak puas akan negara yang kian “aneh” dan seperti panggung boneka.. Para pejabat di atas sana sepertinya menikmati tiap peranan mereka dan bertepuk tangan riuh untuk tiap penderitaan dan keributan di tengah masyarakat..

Terlepas dari aksi Sondang Hutagalung, aku merasa muak dengan sikap dan gaya beberapa orang yang kukenal maupun tidak kukenal tetapi dengan mengikuti berita.. Gaya hidup yang pamer sana sini, hanya menganggap yang punya duit, jabatan, prestasi, selera tinggi dan berasal dari keluarga terkenal patut dihargai. Mereka yang tidak bisa mengikuti gaya hidup seperti itu hanya akan menerima sapaan yang menurutku lebih cocok disebut gertakan, dipandang dengan tatapan sombong, tidak diakui keberadaannya jika tidak sanggup pamer..

Aku yakin banyak yang tidak dapat memahami jalan pikiranku saat ini bahkan (mungkin) orang terdekatku.. Aku tidak akan memaksa siapapun untuk menerima cara berpikirku dan tidak akan merasa bersalah sudah membuat coretan unek-unekku.. Aku juga tidak akan menanggapi dengan emosi jika ada yang mengomentari tulisanku ini dengan bahasa yang menghakimiku atau sok mengguruiku.. Aku akan terima seperti “mati rasa” yang kurasakan saat ini bagi kaum hedo dan sok sosialita..

Sekian tahun sudah aku coba mencari perhatian dan pengakuan bahwa aku benar-benar “ada” dan “nyata” meski kerap bergaul dengan mereka yang dianggap kelas bawah dan bukan bagian dari diriku.. Anak jalanan yang dulu pernah menjadi kelompok belajarku dengan kawan-kawan di Bogor, tukang becak dan ojek yang jadi langgananku, tukang urut yang selalu kekurangan, bocah pemulung yang tiap akhir minggu selalu lewat dari depan rumah, asisten rumah tangga yang kerap bercanda denganku dan beberapa profesi lainnya yang tidak pernah mendapat pengakuan.. Tetapi entah mengapa aku lebih nyaman dengan mereka.. Tidak ada kepura-puraan..

Aku masih ingat dan akan selalu ingat dengan ucapan seseorang yang sepertinya “gerah” dengan pergaulanku.. “Kau belajarlah bergaul dengan orang-orang yang punya jabatan dan terhormat.. Jangan permalukan dirimu dengan pergaulan seperti sekarang.. Supaya bisa maju kau..”

Saat itu aku masih seorang mahasiswi dan gampang terpancing emosinya. Aku diam mendengar “nasehat” itu karena dilontarkan orang yang kuhormati, namun setelah itu aku menangis dan hanya ingin pulang ke kota kecilku dimana kedamaian kudapat.. Dan mungkin ini bisa dikategorikan akar pahit atau luka batin, aku mualai kehilangan respek dengan orang tersebut..

Mungkin, saat ini orang tersebut akan berkata “makanya dari dulu udah disuruh bergaul dengan golongan kelas atas, pasti hidup dan karirmu tidak akan pas-pasan seperti sekarang..” Jika dia melihat diriku yang masih tetap “bangga” dan “sombong” dengan diri dan kehidupanku yang masih sangat biasa.. Tapi ada rasa bangga dan puas tersendiri yang kurasakan karena semua kudapat dengan tenaga dan keringatku sendiri tanpa harus jadi penjilat atau munafik hanya untuk mendapat tempat di mata orang-orang terhormat..

Yah.. Karirku yang diawali hanya dengan pergaulan dengan TKW yang nota bene hanya kelas pembantu rumah tangga.. Karir yang hanya sebatas Malaysia ternyata tidak perlu dibanggakan karena kalah pamor dengan hanya sebatas jalan-jalan keliling Eropa atau negara Asia lainnya.. Jelas gengsinya berbeda karena aku ke negara tetangga untuk bekerja dan cari nafkah yang tidak seberapa besarnya, sedangkan orang lain hanya untuk jalan-jalan sekedar menghabiskan uang.. Perbedaan yang mencolok bukan ?

Banyak hal yang ingin kuungkapkan tapi rasanya tidak tahu harus bagaimana lagi menyusun kata-katanya… Karena panjang lebar aku menulis “unek-unekku” di sini pastinya tidak akan pernah dipahami sebagian orang… Aku hanya tidak ingin tulisanku ini akan membuat orang-orang dekatku akan semakin menghakimiku tetapi kalaupun itu terjadi aku akan terima dengan lapang dada dan tidak akan kubantah.. Bukankah sejak dulu pun selalu begitu ???
Yahhhhh, itu karena banyak yang tidak memahami apa dan bagaimana cara pandang dan pikiranku.. Meski aku coba menjelaskan tetapi selalu dibantah..

Aku hanya capek harus berpura-pura semua baik-baik saja sementara senyuman yang sungguh-sungguj berasal dari ketulusan hatiku sering dibalas dengan tatapan sombong tanpa balasan senyuman yang tipis sekalipun..

Aku hanya merasa letih menahan rasa hati saat aku meminta maaf untuk konflik yang terjadi terhadap orang tertentu tetapi entah mengapa tiba-tiba menyeret namaku dan memaksaku harus berjiwa besar minta maaf (walau dengan kebingungan) dan ternyata itu pun tidak ditanggapi..

Aku hanya ingin teriak sepuasnya untuk mengeluarkan semua bebanku dan meneriakkan bahwa “aku tidak seburuk yang kalian pikirkan !!!! “

Aku capek dan muak selalu cengeng dan menangis saat “merindukan” sebuah pengakuan dan dianggap..

Tapi semua itu ternyata yang membuatku belajar untuk menghargai dan memahami kehidupan susah dan tidak beruntungnya mereka yang disisihkan.. Tidak perlu ada kepura-puraan yang harus dimainkan untuk dihargai.. Tidak perlu memaksakan diri untuk dapat bergaya dan mengikuti trend.. Aku nyaman menjadi diriku sendiri.. Aku bisa tersenyum lebar, tertawa keras dan bernyanyi sepuasnya meski dengan suara pas-pasan..

Satu lagi, cara berpikirku dihargai dan keberadaanku diakui.. Hidup ini ga perlu muluk-muluk selama ada pengakuan.. Selama ada kepedulian dan saling menghargai…

Rasa yang sempat menjadi duri dalam daging telah membuatku tumbuh sebagai seorang gadis yang keras dan berani memutuskan sikap untuk tetap bergaul dengan mereka yang berasal dari kelas bawah.. Tetapi juga membuatku bisa lebih memahami dan memaklumi berbagai bentuk perjuangan hidup yang terkadang tidak dapat diterima akal sehat…

Yah, kembali ke diri masing-masing dan cara berpikir… Aku, kamu, kita, kalian tidak akan pernah mengerti sepenuhnya dengan jalan pikiran orang lain… Hanya satu harapanku bagi siapa pun yang berkenan membaca tulisan ini, mari kita belajar saling menghargai cara berpikir dan keputusan orang lain tanpa harus menghakiminya.. Apalagi menghadiahi kata-kata keras, kasar maupun hujatan.. Jika tidak suka, tinggalkan.. Selama itu tidak merugikan kehidupan para kaum terhormat…

Sangat indah rasanya jika hidup ini saling menghargai dan memahami.. Terutama saat memberi senyuman tulus bagi sesama…

**Senin pagi yang cerah dalam perjalananku bks-bsd, 121211**

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.