Blog ini adalah tempatku mencurahkan segala isi hati dan pikiranku. Menjadikanku orang yang kreatif dan terlatih.. Dan mendapatkan beragam ilmu yang akan membuatku semakin kaya..

Bebaskan Aku…

All by my self…begitu merdu dilantunkan si cantik Celine Dion.. Mengalun pelan di istana mungilku.. Entah mengapa, hari ini aku merasa aneh sendiri karena “baru” jam 19.30 Wib sudah berada di kost.. Biasanya ???? 21.00 paling cepat pulang. Hari ini aku ingin sendiri dan hanya menikmati beberapa lagu favoritku sambil berbaring atau mengetik apa saja yang tersimpan dalam hati dan pikiranku..

Ada kalimat dalam lagu ini betul-betul menyentuh hatiku terdalam.. Kira-kira begini, “saat aku menghubungi beberapa nomor, tak seorangpun yang menjawabnya..”
Beberapa nomor dalam kalimat ini ditujukan untuk teman, sahabat atau saudara perempuanku.. Yahhh, semua sudah disibukkan dengan suami dan anaknya.. Tidak ada lagi waktu untuk menemaniku berbicara sepanjang malam..

Sepi….Sendiri…Sedih (hanya sedikit saja kuberikan ruang untuknya) menjadi teman setia saat aku hanya bertatapan dengan bayanganku sendiri.. Meski kucoba mencari hiburan dengan menonton film terbaik yang sedang diputar di bioskop, jalan, hunting buku, atau sekedar ngopi.. Tapi semua sama saja.. Hanya ada aku,diriku dan sepi..

Selama ini aku masih bisa membuang semua tentang rasa sepi itu dari pikiranku tapi malam ini aku benar-benar tidak bisa mengusirnya.. Dia begitu kuat menguasai diriku.. Membelengguku dalam rasa sedih dan sebaris air mata mengalir tapi dengan cepat kuhapus.. Aku ga ingin dia menghiasi wajahku..

Tetapi ada keyakinan dalam diriku bahwa Tuhan belum bosan untuk mendengarkan doaku..Mendengarkan pintaku tiap hari untuk mempertemukanku dengan seorang pria yang menjadikanku tulang rusuknya yang hilang..Tuhan pasti masih setia menjadi tempatku bercerita tentang semua rasa yang kualami..

Mungkin Tuhan juga tersenyum atau mengerutkan kening saat mendengar pintaku tentang seseorang yang akan DIA kirimkan menjadi calon pemimpin rumah tangga yang diberkati..

Jika Tuhan mengijinkan, aku hanya ingin menemukan seorang pria yang bisa menyayangiku dengan semua cinta..

Seorang pria yang akan semakin menyempurnakan diriku dengan saling menerima kekurangan masing-masing..Seorang pria yang bisa menjadi teladan,sahabat,pemimpin dan penjagaku selamanya..Seorang pria yang dengannya keluarga kami pun saling menghormati dan menyayangi tanpa harus memandang perbedaan..

Seorang pria yang bisa menegurku dengan kasih sayang saat kesilapan membuatku kelihatan kurang baik dan juga bisa menerima saat dirinya pun tersandung sebuah kesilapan.. Seorang pria yang bersamanya aku akan menghabiskan seluruh kisah kehidupan di dunia ini dalam kasih sayang dan kebersamaan abadi..

Yahhhhh, seorang pria yang akan membebaskanku dari rasa sepi, sendiri dan kerinduan ini… Semoga….

**BSD,12012012..21:02**

Kalian Tidak Akan Mengerti

Beberapa hari ini, ada kegalauan yang merajai hatiku.. Bukan masalah pekerjaan karena aku sangat menyukai pekerjaan dan kesibukanku saat ini.. Bukan juga masalah percintaan karena aku punya banyak cinta dari keluarga dan sahabat-sahabatku.. Bukan juga keinginan akan materi karena aku bukan jenis manusia yang selalu ingin ini itu..

Kegalauanku ini mulai terasa saat mengikuti aksi bakar diri yang dilakukan sang Pahlawan Revolusioner Sondang Hutagalung.. Bukan mau ikut-ikutan dengan aksinya atau membenarkan aksi berbahayanya.. Tetapi entah mengapa aku bisa memahami aksinya itu.. Aksi yang didasari rasa tidak puas akan negara yang kian “aneh” dan seperti panggung boneka.. Para pejabat di atas sana sepertinya menikmati tiap peranan mereka dan bertepuk tangan riuh untuk tiap penderitaan dan keributan di tengah masyarakat..

Terlepas dari aksi Sondang Hutagalung, aku merasa muak dengan sikap dan gaya beberapa orang yang kukenal maupun tidak kukenal tetapi dengan mengikuti berita.. Gaya hidup yang pamer sana sini, hanya menganggap yang punya duit, jabatan, prestasi, selera tinggi dan berasal dari keluarga terkenal patut dihargai. Mereka yang tidak bisa mengikuti gaya hidup seperti itu hanya akan menerima sapaan yang menurutku lebih cocok disebut gertakan, dipandang dengan tatapan sombong, tidak diakui keberadaannya jika tidak sanggup pamer..

Aku yakin banyak yang tidak dapat memahami jalan pikiranku saat ini bahkan (mungkin) orang terdekatku.. Aku tidak akan memaksa siapapun untuk menerima cara berpikirku dan tidak akan merasa bersalah sudah membuat coretan unek-unekku.. Aku juga tidak akan menanggapi dengan emosi jika ada yang mengomentari tulisanku ini dengan bahasa yang menghakimiku atau sok mengguruiku.. Aku akan terima seperti “mati rasa” yang kurasakan saat ini bagi kaum hedo dan sok sosialita..

Sekian tahun sudah aku coba mencari perhatian dan pengakuan bahwa aku benar-benar “ada” dan “nyata” meski kerap bergaul dengan mereka yang dianggap kelas bawah dan bukan bagian dari diriku.. Anak jalanan yang dulu pernah menjadi kelompok belajarku dengan kawan-kawan di Bogor, tukang becak dan ojek yang jadi langgananku, tukang urut yang selalu kekurangan, bocah pemulung yang tiap akhir minggu selalu lewat dari depan rumah, asisten rumah tangga yang kerap bercanda denganku dan beberapa profesi lainnya yang tidak pernah mendapat pengakuan.. Tetapi entah mengapa aku lebih nyaman dengan mereka.. Tidak ada kepura-puraan..

Aku masih ingat dan akan selalu ingat dengan ucapan seseorang yang sepertinya “gerah” dengan pergaulanku.. “Kau belajarlah bergaul dengan orang-orang yang punya jabatan dan terhormat.. Jangan permalukan dirimu dengan pergaulan seperti sekarang.. Supaya bisa maju kau..”

Saat itu aku masih seorang mahasiswi dan gampang terpancing emosinya. Aku diam mendengar “nasehat” itu karena dilontarkan orang yang kuhormati, namun setelah itu aku menangis dan hanya ingin pulang ke kota kecilku dimana kedamaian kudapat.. Dan mungkin ini bisa dikategorikan akar pahit atau luka batin, aku mualai kehilangan respek dengan orang tersebut..

Mungkin, saat ini orang tersebut akan berkata “makanya dari dulu udah disuruh bergaul dengan golongan kelas atas, pasti hidup dan karirmu tidak akan pas-pasan seperti sekarang..” Jika dia melihat diriku yang masih tetap “bangga” dan “sombong” dengan diri dan kehidupanku yang masih sangat biasa.. Tapi ada rasa bangga dan puas tersendiri yang kurasakan karena semua kudapat dengan tenaga dan keringatku sendiri tanpa harus jadi penjilat atau munafik hanya untuk mendapat tempat di mata orang-orang terhormat..

Yah.. Karirku yang diawali hanya dengan pergaulan dengan TKW yang nota bene hanya kelas pembantu rumah tangga.. Karir yang hanya sebatas Malaysia ternyata tidak perlu dibanggakan karena kalah pamor dengan hanya sebatas jalan-jalan keliling Eropa atau negara Asia lainnya.. Jelas gengsinya berbeda karena aku ke negara tetangga untuk bekerja dan cari nafkah yang tidak seberapa besarnya, sedangkan orang lain hanya untuk jalan-jalan sekedar menghabiskan uang.. Perbedaan yang mencolok bukan ?

Banyak hal yang ingin kuungkapkan tapi rasanya tidak tahu harus bagaimana lagi menyusun kata-katanya… Karena panjang lebar aku menulis “unek-unekku” di sini pastinya tidak akan pernah dipahami sebagian orang… Aku hanya tidak ingin tulisanku ini akan membuat orang-orang dekatku akan semakin menghakimiku tetapi kalaupun itu terjadi aku akan terima dengan lapang dada dan tidak akan kubantah.. Bukankah sejak dulu pun selalu begitu ???
Yahhhhh, itu karena banyak yang tidak memahami apa dan bagaimana cara pandang dan pikiranku.. Meski aku coba menjelaskan tetapi selalu dibantah..

Aku hanya capek harus berpura-pura semua baik-baik saja sementara senyuman yang sungguh-sungguj berasal dari ketulusan hatiku sering dibalas dengan tatapan sombong tanpa balasan senyuman yang tipis sekalipun..

Aku hanya merasa letih menahan rasa hati saat aku meminta maaf untuk konflik yang terjadi terhadap orang tertentu tetapi entah mengapa tiba-tiba menyeret namaku dan memaksaku harus berjiwa besar minta maaf (walau dengan kebingungan) dan ternyata itu pun tidak ditanggapi..

Aku hanya ingin teriak sepuasnya untuk mengeluarkan semua bebanku dan meneriakkan bahwa “aku tidak seburuk yang kalian pikirkan !!!! “

Aku capek dan muak selalu cengeng dan menangis saat “merindukan” sebuah pengakuan dan dianggap..

Tapi semua itu ternyata yang membuatku belajar untuk menghargai dan memahami kehidupan susah dan tidak beruntungnya mereka yang disisihkan.. Tidak perlu ada kepura-puraan yang harus dimainkan untuk dihargai.. Tidak perlu memaksakan diri untuk dapat bergaya dan mengikuti trend.. Aku nyaman menjadi diriku sendiri.. Aku bisa tersenyum lebar, tertawa keras dan bernyanyi sepuasnya meski dengan suara pas-pasan..

Satu lagi, cara berpikirku dihargai dan keberadaanku diakui.. Hidup ini ga perlu muluk-muluk selama ada pengakuan.. Selama ada kepedulian dan saling menghargai…

Rasa yang sempat menjadi duri dalam daging telah membuatku tumbuh sebagai seorang gadis yang keras dan berani memutuskan sikap untuk tetap bergaul dengan mereka yang berasal dari kelas bawah.. Tetapi juga membuatku bisa lebih memahami dan memaklumi berbagai bentuk perjuangan hidup yang terkadang tidak dapat diterima akal sehat…

Yah, kembali ke diri masing-masing dan cara berpikir… Aku, kamu, kita, kalian tidak akan pernah mengerti sepenuhnya dengan jalan pikiran orang lain… Hanya satu harapanku bagi siapa pun yang berkenan membaca tulisan ini, mari kita belajar saling menghargai cara berpikir dan keputusan orang lain tanpa harus menghakiminya.. Apalagi menghadiahi kata-kata keras, kasar maupun hujatan.. Jika tidak suka, tinggalkan.. Selama itu tidak merugikan kehidupan para kaum terhormat…

Sangat indah rasanya jika hidup ini saling menghargai dan memahami.. Terutama saat memberi senyuman tulus bagi sesama…

**Senin pagi yang cerah dalam perjalananku bks-bsd, 121211**

Hari ini genap 27 tahun umurmu.. Usia yang sudah sangat matang dan dewasa.. Usia yang membuatmu sudah bertanggung jawab akan hidupmu sendiri dan juga keluarga.. Usia yang membuatmu menjadi kebanggaan dan penerus nama orang tua kita..

Aku yakin tidak akan ada perayaan… Tidak akan ada acara tiup lilin, potong kue bahkan makan bersama karena semua itu bukan kebiasaanmu.. Engkau sangat menyukai kesederhanaan dan jauh dari keramaian kawan maupun keluarga..

Seperti halnya ulang tahunmu yang sudah-sudah, pasti kau akan lupa. Akan tersenyum tipis atau malah tetap dengan wajah dingin menyambut tiap ucapan selamat. Bagimu ulang tahun dan hari biasa adalah sama saja..
Permintaan di hari istimewamu biasanya hanya ayam goreng masakan mama, yang biasa kau panggil “boru Hutabarat”…

Aku membayangkan wajahmu, mencoba melukiskan postur dan sosok dirimu di usia yang kian matang ini.. Tetapi yang hadir hanyalah bayanganmu 11 tahun yang lalu… Wajah itu tidak pernah bisa kulupakan dan selalu menjadi pemberi ketenangan saat jiwaku bergejolak dan rapuh…

Yahhhhh, saat ini kau (mungkin) merayakan ulang tahunmu di surga. Bersama para malaikat dan orang-orang yang sudah mendahuluiku.. Sedangkan kami di sini hanya bisa memperingati hari kelahiranmu.. (Tetap dengan senyuman seperti pintamu di saat-saat terakhir kita bersama di dunia ini)…

Aku hanya bisa mengirimkan doa dan berharap mama, bapak dan Asido mengantarkan bunga ke rumah abadimu.. Tapi aku yakin di atas sana kau pasti tersenyum melihat kami mengenangmu dengan senyuman… Meski raga kita telah terpisah selama 11 tahun dan buat selamanya tapi cinta dan kerinduan kami selalu abadi untukmu…

Selamat ulang tahun adekku… Cinta kami akan selalu ada dalam tiap doa yang terucap untukmu… Semoga Brata senang menerima kado kakak… Kado yang sama di tiap peringatan hari lahirmu…
Kakak merindukanmu…..

Brata Mangapul Simanjuntak, 27 November 1984 – 04 Juni 2000

**Bekasi, Minggu pagi 27 November 2011**

……… (Tanpa Judul)

Pagi ini sinar matahari menyambutku dengan cerah.. Senyuman terindah dan kehangatan dia berikan padaku.. Seolah menyapa dan memberi semangat untuk hari ini.. Aku melangkah di antara deru kendaraan dan berdiri di tempat biasa menanti kendaraan yang akan mengantarku beraktivitas hari ini…

Di antara diam dan deru kendaraan yang lalu lalang, tiba-tiba kenangan itu hadir.. Tanpa bisa kucegah, seraut wajah itu hadir dan bermain di anganku.. Cerita yang 2 kalender telah berlalu..

Kucoba menepis bayang itu namun semua semakin jelas seperti film yang diputar di layar putih.. Entah dari mana datangnya, ada rasa sedih menelusup dalam relung hatiku.. Rasa sedih yang sudah lama hilang.. Mengenang saat indah bersamamu.. Mengingat perpisahan menyakitkan yang sempat menghancurkan semangat dan rasa percayaku akan sebuah cinta..

Ada kerinduan mulai menggelitik dalam sanubariku.. Saat mengingat sanjungan, pujian, ocehan dan protesmu yang selalu mengalir begitu saja.. Ada rasa hangat di kedua mataku..
Sekejap kupejamkan mata untuk menghalangi 2 butiran hangat itu jatuh..

“Tuhanku jika memang kami berjodoh beri kesempatan lagi namun jika tidak, kami akan tetap berteman” sebaris kalimat itu terucap begitu saja dengan suara lirih yang hampir tidak terdengar…

Aku tidak mengerti dari mana datangnya perasaan ini.. Mungkin ini hanya emosi sesaat yang tiba-tiba mampir atau ada arti dibalik semua ini.. Entahlah…. Aku tidak ingin memikirkannya.. Bagiku semua akan berjalan normal seperti hari-hariku tanpamu.. Kupandang lalu lalng kendaraan dipacu dengan kecepatan tinggi dan hanya meninggalkan asap yang lama kelamaan semakin hilang bersama angin.. Aku ingin semua rasa ini juga akan hilang bersama sang angin..
Sudahlah……

**Selasa pagi yang cerah, 08112011**

Hari ini hujan sangat bersahabat dengan bumi… Rintiknya yang menyanyikan alunan ringan membasahi bumi, tidak deras dan menakutkan tetapi mampu bertahan untuk terus membasahi bumi sampai malam menjelang…

Kulangkahkan kaki berlahan, meninggalkan gedung tempatku beradu nasib. Letih mulai menggelayuti diriku.. Sejenak aku memandang rintik hujan yang masih tetap setia. Seakan-akan tarian penyambutan yang siap mengiringi tiap langkahku…

Kuputuskan untuk tetap melangkah dan menuju tempatku biasa menunggu bis yang akan membawaku pulang ke istana kecil. Tidak terlalu kuhiraukan tetesan kecil yang mulai berubah deras.. Rambut dan pakaianku sudah mulai basah.. Kuusap titik-titik air yang membasahi wajahku.. Pandanganku mulai kabur saat air hujan juga membasahi kaca mataku..

Dengan berlari kecil aku mencari tempat teduh.. Di teras sebuah toko yang tertutup rapat, gelap dan sepi.. Tidak ada pilihan lain, kuputuskan berteduh di situ. Seorang pria kurus tampak memandang ke arahku, ternyata dia tukang parkir yang bertugas di sekitar pertokoan itu.. Tidak lama dia beranjak dan mulai mengatur kendaraan yang keluar masuk toko di samping tempatku berteduh…

Kuusap rambutku yang basah, pakaian dan sepatu kets yang kupakai pun terasa basah. Dingin mulai menyergap tubuhku… Saat aku mengusap rambutku, entah mengapa tiba-tiba perasaan sepi menyergapku.. Ada rasa rindu yang luar biasa menggelora dalam jiwaku.. Wajahku yang sebelumnya terasa dingin, tiba-tiba menjadi hangat.. Ada dua baris garis air mengalir dan terasa hangat mengalir dari kedua kelopak mataku… Berlahan tanganku turun ke bawah kelopak mata dan menyeka butiran air mata…

Yahhhh… Suasana dingin dan sepi ini mampu membangkitkan rasa rinduku kepadanya.. Dia yang jauh di sana..
Dalam kegelapan aku berbisik, “Apa kabarmu di sana ? Hujan kah di rumahmu ? Masih kau ingatkah kenangan masa kecil kita saat mencuri-curi untuk bermain hujan ?”

Aku ingin mendengar jawaban ataupun sapaan darinya.. 11 tahun lebih sudah aku tidak mendengar suara berat yang tidak jelas mengucapkan kata-katanya.. Ribuan hari kulalui tanpa melihat tubuh jangkung itu.. Melihat teman sepermainannya tumbuh menjadi dewasa membuatku tidak pernah mampu untuk mengingat dia telah lama pergi.. Bagiku dia hanya sedang merantau..

Rindu itu terasa makin menusuk sanubariku.. Kubisikkan namanya sambil memandang ke langit gelap dan diantara rintik hujan, “Brata adekku, kakak rindu..”
Rindu itu mampu membuat air mataku kian mengalir dan memberi rasa hangat di pipi.. Tangisan yang tertahan dan tanpa suara… Rindu yang terasa sangat menyiksa…

Suara klakson mobil yang sedang berebut jalan mampu menyadarkanku dari suasana sedih itu.. Kuseka air mataku dan sedikit marah pada diriku sendiri.. “Mengapa harus cengeng lagi ? Bukankah dia sangat membenci air mata ? Jangan membuat dia sedih, Far…” Kubisikkan kata-kata itu untuk menguatkan diri sendiri.. Rintik hujan mulai berkurang, kualihkan seluruh perhatianku untuk membaca setiap bis yang lewat.. Dan akhirnya bis yang kutunggu pun datang.. Dengan berlari kecil aku menuju pintu yang sudah terbuka.. Setelah melemparkan pandangaku mencari kursi yang kosong, kuputuskan duduk dibarisan kedua.. Diantara dua orang yang kelihatan tertidur dan sibuk berbicara di telepon genggam..

Kuhempaskan tubuhku diantara mereka berdua.. Dinginnya alat pendingin di bis ini hampir membuatku menggigil.. Sang supir yang tidak ada rasa takut memacu bis dengan kecepatan tinggi diantara derasnya hujan dan jalanan yang licin.. Ada sedikit rasa was-was dalam hati.. Kualihkan perhatianku dengan menuliskan semua rasa rinduku ini… Sejenak kupandang ke luar, lampu-lampu di jalanan seperti penunjuk jalan yang mengarahkanku ke masa depan..
Yahhh.. Hidup akan terus berjalan.. Dengan atau tanpa Brata, kehidupan akan terus berputar… Kuhela nafas panjang, tanpa kusadari air bening itu kembali menetes di kelopak mataku… Namun kali ini kuakhiri dengan sebuah senyuman… Yah, rindu yang menyatu dengan hujan telah memporakporandakan ketabahanku.. Tetapi itu hanya sementara…

**malam yang dingin di perjalananku, 31102011, 19.43**

Dulu kami hanyalah orang biasa.. Kami sama seperti manusia lainnya yang memulai semua ini dari nol.. Kami menjadi istimewa saat berlaga dari arena ke arena.. Kami menjadi luar biasa saat mengangkat trofi dan medali…

Kami adalah manusia yang selalu diberi target untuk menang… Kami adalah manusia yang hidup hanya untuk latihan..latihan dan latihan.. Setiap titik keringat kami adalah titik kemenangan yang harus kami raih di arena yang kadang tidak bersahabat.

Jatuh bangun di arena sudah menjadi hal biasa bagi kami… Saat dewi fortuna berbaik hati memberi kemenangan, kami akan dipuji dan disambut bak pejuang yang menang di pertempuran.. Namun saat kekalahan yang menghampiri, kami akan dihujat dan dianggap bodoh. Tapi pernahkah mereka yang menghujat berpikir, jauh di lubuk hati terdalam kami lebih hancur dan tertekan ?

Saat arena penentuan sudah di depan mata, mereka orang-orang terhormat akan sibuk menekankan bahwa kami harus menang… Kalkulator mereka akan berlaku untuk mengingatkan betapa besar biaya yang sudah terkucur untuk kami.. Mereka akan sangat mudah memberi target dan taruhan atas tiap keberhasilan kami… Mereka tidak tahu, betapa berat perjuangan yang kami hadapi.. Entah berapa banyak darah, air mata dan keringat terkucur.. Tapi semua kami tetap lakukan demi sebuah amanat dan kebanggaan..

Kemenangan yang diraih hanya sebentar menjadi milik kami, mereka yang terhormat sudah mulai sibuk jumpa pers atau pun wawancara sana sini sambil tidak lupa menekankan kemenangan itu juga berkat jasa mereka.. Sedangkan kami hanya bisa duduk sambil terseyum lebar…

Jika kekalahan yang kami bawa pulang, akan ada kekisruhan untuk mencari siapa yang patut disalahkan… Keributan, saling lempar tanggung jawab dan menyalahkan akan membuat tekanan mental yang luar biasa bagi kami.. Tapi lagi-lagi siapa yang peduli ? Kami hanya akan bersiap-siap seperti ayam kehilangan induknya, jika para petinggi di atas memecah belah kesatuan yang pernah ada.. Kami hanya jadi korban dan harus terima kenyataan…

Sesama kami yang hidup di arena pun tidak selalu harmonis.. Mereka yang olah raganya sedang di atas angin akan diperlakukan seperti selebritis. Latihan diliput, menikmati waktu libur diikuti, memadu kasih pun diekspos besar-besaran.. Sungguh hidup pribadi bukan lagi milik kami….

Kami bukan lagi milik keluarga, sahabat dan orang-orang yang kami sayangi… Kami adalah milik bangsa dan negara ini… Kami adalah anak-anak Ibu Pertiwi yang diberi kepercayaan untuk mengibarkan Sang Merah putih dan mengumandangkan lagu kebangsaan di muka dunia… Kami adalah sang pengemban kebanggaan bangsa… Entah berapa kalender terlewati tanpa bersama orang-orang terkasih dan terdekat… Hidup kami sudah menjadi milik semua orang….

Hidup kami saat ini penuh dengan janji dan bonus… Tapi hidup bukan hanya hari ini… Suatu saat tubuh kami pun akan menjadi tua dan prestasi sudah tinggal kenangan.. Siapa yang akan peduli dengan kehidupan kami ? Entahlah…. Mempersiapkan diri untuk masa itu menjadi kewajiban yang harus kami lakukan sejak saat ini… Karena kami tidak ingin hidup melarat dan menjadi orang yang butuh dikasihani seperti kebanyakan pendahulu yang pernah mengharumkan nama bangsa ini.. Tetapi saat usia kian uzur dan tubuhnya termakan waktu menjadi renta tidak ada lagi yang peduli bahkan mengingat namanya… Terpaksa, mereka para pendahulu kami harus berjibaku di kerasnya kehidupan malam, berjualan di kaki lima, menjual medali yang dulu simbol kebanggan bahkan melakukan perbuatan yang dapat merusak anak bangsa ini melalui narkoba hanya demi menghentikan jerit tangis kelaparan anak istri dan ingin memastikan anak – anak mereka mendapat pendidikan yang layak.. Jika itu terjadi adakah para kaum terhormat itu masih akan mengingat sedikit saja tentang jasa kami ????

Apapun yang kami rasakan, suka – duka silih berganti menghampiri tidak lagi membuat kami cengeng… Ini adalah hidup pilihan kami… Menjadi kebanggaan bangsa ini adalah tugas mulia yang harus kami pikul…

Kami butuh dukungan bangsa sendiri, kami butuh semangat bangsa ini dan kami butuh bangsa ini untuk tertawa dan menangis bersama… Kami butuh cinta bangsa ini lebih dari bonus yang selalu diiming-imingi tiap langkah kami mulai memasuki arena…

Kami adalah pejuang masa kini… Kami adalah petarung sejati… Kami adalah pengibar Sang Merah Putih di muka dunia.. Kami mengumandangkan Indonesia Raya yang mampu mengharu birukan hati… Keringat, darah, tenaga dan air mata kami persembahkan untuk Ibu Pertiwi… Dukung dan doakan tiap perjuangan kami… Kami adalah Pahlawan Arena….

**kupersembahkan untuk Tim Merah Putih yang berjuang dari arena ke arena untuk mengharumkan nama bangsa**

Senin Pagi yang mendung dalam perjalananku 31102011

Saat Menjelang 30 tahun

Hari ini rasanya biasa saja bagiku.. Meski ada yang khusus terjadi dalam hidupku.. Perubahan yang harusnya kusambut dengan semangat.. Tetapi entah mengapa rasa enggan dalam jiwaku masih sangaat kuat menguasai..

Yah… Hari ini aku genap 30 tahun.. Usia yang kian dewasa dan harusnya sudah memiliki beberapa keberhasilan yang dapat kubanggakan.. Tetapi apa yang sudah kudapat sampai detik ini ????

Pertanyaan itu terus dan terus menggoda pikiranku beberapa hari belakangan.. Ditambah lagi beberapa pergumulan hidup dan kehilangan terhadap sahabat-sahabat yang pernah aku jumpai dalam hidupku.. September yang biasanya disebut September Ceria menjadi kehilangan maknanya bagiku…

Menoleh lagi ke belakang membuatku semakin terhanyut dalam diam.. Saat kulemparkan pandangan ke depan, rasanya berat sekali.. Seperti seorang pelari yang akan memulai pertandingan, aku siap-siap di garis start usia kedewasaan ini dan mencoba membagun semangatku sendiri..

Entah mengapa, untuk ulang tahun kali ini aku tidak menginginkan perayaan apapun.. Aku hanya ingin kado yang kuminta pada Tuhan dan menjadi rahasia kami akan terwujud… Itu saja…

Tetapi ceria itu ternyata masih mau bersahabat denganku.. Kejutan indah dari sahabat – sahabatku di Parloppan Na Tabo dan kak Pasma di tengah malam tepat usiaku bertambah 30 tahun di Black canyon Cikini, berhasil membuatku tersenyum bahagia sekaligus gemetaran karena terkejut. Terima kasih untuk hadiahnya…Pantesan kak Pasma betah menahan aku dari jam 6 sore sampai pindah tempat… Heheheheheh… Kalian adalah sahabat dan keluarga terbaik…

Kado terindah lainnya kini adalah sebaris SMS ucapan selamat ulang tahun dari bapakku tepat pukul 00.00 WIB… Karena biasanya bapak dan mama sering terlambat atau kecepatan mengingat hari ulang tahunku… Akhhhhhh, mereka selalu memberiku yang terbaik sejak aku di dalam kandungan…

Kuhela nafas panjang sebelum kupejamkan mata dan melipat jari jemariku.. Aku hanya ingin mempunyai waktu khusus berdua dengan-NYA… Mengucapkan sederet doa sebagai ungkapan syukurku untuk kehidupan ini.. Membisikkan permohonanku untuk rahasia itu lagi dan… Mengucapkan pada diriku sendiri, “Selamat Ulang Tahun, Farida…”

Terima kasih untuk usia 20 tahunan dan selamat datang usia 30 tahun… Banyak kisah sudah tertulis di hari yang lalu dan akan banyak cerita baru akan kutempu di hari depan.. Keinginan untuk lebih dewasa dan bijak di usia yang kian matang menjadi janji untuk diriku sendiri… Semoga semua akan lebih baik di usia yang kian matang dan dewasa ini… Harapan itu pasti akan selalu ada dan terwujud dalam kasih-NYA..

Note : ucapan syukur dan terima kasihku khusus untuk kedua orang tuaku, kakak, abang, adek-adekku dan ponakannya yang tampan.. Juga untuk keluarga besar dan sahabat-sahabatku.. Bahkan mereka yang telah pergi jauh ke rumah Bapa… Kalian adalah semangat dan sukacitaku… :-)

“Kacau” Sendiri……

Ada cerita lucu sekaligus menyebalkan baru-baru ini kualami… Tentang seseorang yang begitu gampangnya menilai orang lain atau sesuatu hal dengan cepat dan cenderung negatif. Dari segi usia harusnya yang bersangkutan sudah sangat dewasa karena sudah kepala tiga.. Kalau dari cerita tentang pekerjaan dan pengalaman hidup harusnya dia ditempa menjadi orang yang bijak dalam menghadapi dan menilai sesuatu apalagi menyangkut pribadi seseorang.

Belum terlalu lama aku mengenal beliau ini.. Perkenalan dimulai dari situs jejaring sosial Face Book, dia meminta no handphone ku. Dari awal aku sudah berat untuk memberi no hp yang menurutku sangat privacy. Tetapi karena dia beberapa kali meminta dan kutolak dengan halus namun masih sopan dan pada akhirnya menggunakan jurus “marga” mamanya yang sama denganku, membuatku memberi no hp sebagai rasa menghormati..

Sudah sifatku kurang begitu antusias atau rajin sms atau teleponan dengan orang yang baru kukenal. Selain merasa kurang penting, kesibukan yang kualami dan juga rasa enggan selaku seorang wanita membuatku tidak pernah menanyakan kabarnya. Dari awal si pria ini beberapa kali sms menanyakan kabar.. Jika ada waktu maka akan kubalas seadanya dan tetap dengan prinsip untuk menghargai. Namun ada beberapa kali aku lupa karena kesibukan dan jika ingat akan kubalas dengan terlebih dahulu minta maaf karena terlambat membalas.

Setelah beberapa kali sms, beliau ini mengajak untuk bertemu atau istilah jaman sekarang Kopi Darat alias Kopdar. Lagi-lagi, penyakit engganku kambuh.. Sebisa mungkin aku menolaknya. Alasan pertama, aku merasa canggung dan kurang afdol seorang wanita baru kenalan dengan seorang pria langsung mau saja diajak ketemuan. Yah.. cara berpikir dan prinsip “kampung” masih melekat kuat di dalam diriku. Alasan kedua, entah mengapa aku belum merasa nyambung dalam komunikasi meski sebatas sms dengan dia. Ada beberapa kenalan yang juga belum pernah ketemu langsung tetapi bisa menjalin komunikasi dengan hangat dan terjalin kekompakan. Aku merasa pria satu ini bahasanya terkadang menggambarkan ada kesombongan dan kurang menjaga perasaan orang lain.

Dari beberapa kali ajakan kopdarnya, aku selalu menolak dengan halus dan terkadang memang karena lagi-lagi berbenturan dengan kesibukan. Maaf jika kesannya sombong aku merasa hal itu bukan yang terpenting untuk saat itu. Dugaanku tidak terlalu melenceng tentang pribadi beliau ini.. Beberapa kali dia memberi statement yang terlalu berani untuk menilai pribadiku tanpa pernah mengetahui banyak hal tentang aku. Dan seperti biasa aku masih mengabaikannya dan paling tersenyum membaca smsnya sambil mencoba mempelajari cara berpikir dan sifat teman baru yang satu ini, lalu putus kontak sama sekali… Sampai akhirnya aku sedang melakukan “pembersihan” nomor di hp dan fb ku ternyata nomornya pun ikut terhapus.

Awal bulan ini, aku menerima sms dari no yang tidak kukenal. Tetapi dari gaya bahasa, sepertinya si pengirim sepertinya sudah kenal lama denganku. Setelah aku tanya tentang si pengirim dan tidak lupa minta maaf karena nomor tersebut tidak ada kusimpang di list contact hp, pada akhirnya aku ingat lagi dengan pribadi satu ini. Berpijak dengan pikiran positif, aku kembali komunikasi dengannya lagi. Yah.. lagi – lagi dasar menghargai.. Dan dia kembali mengajakku bertemu.

Perasaan enggan itu masih sangat kuat.. Tidak bisa kupungkiri, entah mengapa perasaanku kurang bisa nyaman untuk bertemu atau kopdar dengan orang yang satu ini. Padahal dengan beberapa teman baru, rasanya aku tidak pernah seberat ini untuk kopdar. Setelah kupikirkan beberapa saat dan ”konsultasi” dengan sahabatku, aku pun mengiyakan untuk bertemu dengan dia. Jika dengan orang lain aku biasanya menentukan jauh-jauh hari tetapi dengan yang satu ini, aku minta hari itu juga sepulang kerja. Karena dia pernah mengatakan ingin kopdar sebelum berangkat ke luer kota untuk waktu yang lama dan dari pemikiranku sendiri supaya tidak ada lagi “utang” maka aku ingin kopdar secepatnya saja. Semua itu benar-benar di luar kebiasaanku yang selalu menyusun rencana untuk kopdar dengan seorang teman baru.

Dengan wajah kucel karena kecapean dengan aktivitas di kantor, celana jeans dengan atasan batik, sepatu sendal berhak pendek, bawa tas kerja ditambah tas kecil yang berisi baju dan sepatu fitness dan tanpa make up membuatku benar-benar berpenampilan cuek. Aku tidak peduli apakah orangnya akan ilfeel melihat penampilanku yang”ndeso’ dan ga karuan. Aku hnaya ingin “setor” muka sebentar lalu pulang.. Itu saja…

Aku duluan tiba di tempat yang telah disepakati, hampir ½ jam aku menunggu di kusri tunggu dekat pintu sebuah mall. Jujur, tidak ada rasa antusias atau penasaran sama sekali. Dengan santai aku duduk sambil sibuk berchit-chat di bb atau sesekali melempar pandanganku ke sekeliling melihat kesibukan dan lalu lalang orang-orang yang juga berada di mall tersebut. Di dekatku, ada beberapa orang yang duduk dengan kesibukan masing-masing dan kebanyakan sedang menunggu temannya. Dua kali dia sms untuk mengabari bahwa dia akan terlambat karena kemacetan lalu lintas dan sms yang terakhir menanyakan apakah aku datang bersama orang lain ? Setelah membalas semua sms dan memberitahu posisiku menunggu, aku kembali sibuk chit – chat dengan teman-teman.

Tidak berapa lama, yang bersangkutan datang. Aku berdiri sambil menugulurkan tangan dan mengucapkan salam “Horas, saya Farida Simanjuntak.”

Kalau yang aku tahu, kebiasaan orang Batak akan membalas spaan Horas dengan “Horas” juga, tetapi jawaban pria satu ini membuatku mengernyitkan dahi saat dia membalas sapanku, “Ternyata, benaran cantik”
Jika tidak ingat sopan santun dan sedang di tempat umun, ingin rasanya aku tertawa sekuatnya. Aku tidak tahu apakah itu perkataan spontan atau hanya basa – basi. Mengingat penampilanku yang hancur lebur dan juga sapaan Horas dariku yang dibalas dengan kata-kata tersebut.

Setelah saling sapa, kami mencari tempat untuk duduk sambil ngobrol-ngobrol. Akhirnya kami mampir di sebuah coffeshop. Awalnya pembicaraan masih biasa saja dan kadang diselingi lelucon. Tetapi entah mengapa aku mulai merasa bosan dan gerah dengan bahasa dan leluconnya. Apalagi saat dia bolak – balik membicarakan tentang “married”. Aku hanya bisa terkaget-kaget dan merasa aneh mendengar orang yang berani bicara seperti itu justru di awal perkenalan. Awalnya aku menggangap itu hanya sebagai lelucon tetapi karena bolak – balik dibicarakan menjadi ‘gerah” sendiri dan mulai menyebalkan. Bagiku, pembicaraan atau pun ajakan untuk hal serius seperti itu bukan kurang nyaman dibahas di awal pertemuan.

Perasaan tidak nyaman makin menguasai diriku saat beberapa hal yang dibicarakan ternyata bertolak belakang dengan prinsip dan pemikiranku. Terutama tentang hubungan sosial dengan dunia luar baik secara nyata maupun dunia maya. Maaf jika aku berpendapat, baginya pertemanan atau hubungan sosial di dunia maya kurang penting, sarat dengan kebohongan dan bisa menimbulkan perselingkuhan bagi yang sudah berpasangan. Sungguh pemikiran yang terlalu negatif. Tetapi bagiku semuanya kembali ke pribadi masing-masing untuk menyikapi hubungan sosial apapun. Begitu juga dengan sarana komunikasi Blackberry yang sedang menjamur, komunitas maupun perkumpulan tertentu seperti persatuan alumni sekolah (kebetulan saat itu aku cerita sedang aktif di persatuan alumni SMP).Baginya hal seperti itu tidak terlalu penting, membuat seseorang sibuk memikirkan orang lain dan tidak fokus dengan diri sendiri dan juga lagi-lagi alasan untuk sebuah kebohongan.

Awalnya aku menentang cara berpikirnya dengan halus dan mengungkapkan pandanganku dari segi positif tetapi ternyata orangnya balik menentang dan makin keras mengemukakan pendapatnya. Pada akhirnya aku hanya tersenyum sambil memalingkan muka, rasanya percuma adu argumen dengannya. Aku hanya mengatakan, “Baiklah..tiap orang punya pendapat masing-masing tetapi alangkah baiknya jika kita saling menghargai cara pandang dan pendapat tersebut dari sisi positif..”.

(Aku yakin, jika saat itu sahabatku ada di bersamaku dan melihat mimik wajahku saat mengucapkan pendapat terakhirku pasti dia akan tertawa dan berkata, “Aku suka melihat wajah dan senyum judesmu..”)

Pembicaraan masih berlanjut dengan beberapa topik tetapi lagi-lagi kembali ke ajakan menikah (benar-benar ga habis pikir dengan keberanian di awal pertemuan), wajahku yang menurutnya cantik dan lain dari boru simanjuntak yang biasanya tidak memiliki wajah menarik, sombong dan parbada /hobbi adu mulut (wahhh.. ini benar-benar membuatku semakin kesal karena apapun penilaiannya tentang boru Simanjuntak, harusnya dia jangan pernah melupakan kalau yang duduk dihadapannya pun asli 100% boru Simanjuntak. Lagian ada begitu banyak boru Simanjuntak cantik, baik dan memeiliki kepribadian baik yang kukenal dan terkenal.. Kemana aja sihhhh ??), dan beberapa percakapan yang menurutky justru menunjukkan kesombongan dan kurang bisa menghargai perasaan orang lain.. Rasanya semua itu cukup bagiku untuk “Kapok” bertemu lagi.

Aku beruntung beberapa sms, bbm dan telepon menyelamatkan diriku dari rasa kesal dan bosan yang kian menguasai diri. Dan semakin beruntung saan jam menunjukkan pukul sembilan lewat. Dengan alasan kostan akan dikunci pukul sepuluh, maka aku pun minta diri. Dan aku merasa seperti terbebas dari sebuah tekanan saat merasakan kembali suasana kamarku..

Dengan tidak sabar, aku mulai “uring-uringan” dengan seorang sahabatku yang juga teman satu sekolahku waktu di Balige. Aku ingin tahu pendapatnya sebagai seorang pria.. Awalnya dia tertawa tetapi setelah aku ceritakan semuanya dan beberapa pandanganya kenalan baruku itu dengan mantap dia berkata, “Ahhhh, sudahlah.. Jangan ceritakan lagi.. Bikin orang senewen aja.. Tetap jadi Farida yang kami kenal dengan kepedulian dan punya teman banyak..”

Sedang asyik-asyiknya chit – chat dengan sahabatku, tiba-tiba handphoneku berbunyi. Ternyata dari pria itu.. Mulailah dia “mengeluhkan” rasa kehilangannya, kesannya bertemu denganku, perasaannya, keinginannya untuk meminang wanita semargaku, “tawaran” menikah, sampai hal yang laing tidak masuk akal saat dia mulai mengatakan bahwa sepertinya dia merasakan “kehadiran” almarhum mamanya yang membimbingku untuk bertemu dengannya dan mendampingiku selama kami bertemu serta bisikan lainnya. Kurasa hal yang wajar jika aku kaget dan takut lalu protes kepadanya. Bagiku mereka yang sudah “pergi” dan tidur dengan damai di surga tidak perlu dibawa-bawa untuk urusan duniawi. Tetapi jawabannya sungguh membuatku kaget dan berani menyimpulkan bahwa dia sosok yang sombong dan kasar. Dengan percaya diri dia menjawab, “Bego kali pun.. Kau pikir mamaku mengganggu orang…bla..bla…bla..”

Bagiku kata “Bego” sudah terlalu berani diucapkan bagi seorang wanita.. Mungkin bagi sebagian orang aku terlalu sensitif, tidak memiliki sense of humour atau terlalu kaku tetapi kata-kata seperti itu bagiku tidak pantas diucapkan kepada orang lain. Dan saat itu aku memutuskan sampai di situ saja mengenalnya. Satu hal yang kujaga, jangan sampai proses belajar menjadi pribadi yang lebih baik menjadi terganggu saat aku harus berhadapan dengan orang seperti yang satu ini. Aku tidak ingin terpancing menjadi kampungan dan buang energi untuk melawannya adu argumen tentang hal-hal yang tidak penting.

Selama tiga hari berturut-turut setelah pertemuan itu, dia masih rajin mengirim sms sekedar menanyakan kabar dan masih kubalas demi menghormati dengan sewajarnya saja. Namun satu hari aku sangat sibuk seharian karena ada pekerjaan di kantor yang memang harus segera diselesaikan dan aku tidak punya waktu sama sekali untuk membuka hp. Ternyata dia sudah sms dari pagi. Malamnya aku baru membaca tetapi sudah ada sms baru yang isinya mengungkapkan kekesalannya karena aku tidak membalas smsnya dan juga tidak adanya kesempatan baginya untuk mendekatiku. Dengan rasa dongkol dan juga karena rasa letih yang luar biasa ditambah sedang buru-buru ke pertemuan dengan teman-teman untuk acara perpisahan aku membalas smsnya dengan tidak lupa diawali minta maaf lalu mulai menekankan kesibukan yang membuatku tidak selalu bisa membalas sms bahkan menjawab telepon yang ada. Ternyata dia membalas dengan nada sms yang juga tidak kalah menunjukkan kesombongan dan diakhir sms mengatakan kesediannya menungguku smapai punya waktu luang untknya.. Saat itu, emosiku benar-benar mulai memuncak.. Beruntung pertemuan dengan teman-teman mampu meredam semua rasa kesalku.

Keesokan harinya aku cuti karena adikku wisuda, saat kami di jalan dia kembali sms menanyakan kabar dan aku masih membalas. Tidak berapa lama dia menelepon tetapai karena suasana yang sedang ramai dan sibuk aku minta maaf tidak bisa bicara dengannya saat itu. Malamnya, aku buka hp ternyata ada sms lagi yang menanyakan suasana wisuda adekku. Dan kali itu tidak kubalas karena sedang ada acara dengan teman-teman SMU adek.

Sabtu, diadakan acara syukuran di rumah sepupuku untuk kelulusan dua adikku, wisuda dan ulang tahun. Saat sedang fokus untuk acara inti tiba-tiba spku berbunyi dan sebaris sms dari pria ini kembali tertera. Tetapi kali ini sms yang menggambarkan betapa sombongnya aku karena cantik dan rasa nelangsanya dia seklaigus penekanan bahwa dia tidak akan sakit hati dengan caraku dan semoga aku mendapat jodoh yang bagus sesuai impianku.. Ingin rasanya aku tertawa saat itu juga seklaigus sangat kesal membaca sms itu. Semakin hilang rasa menghargaiku untuk orang yang bisanya berpikiran picik seperti itu.. Tetapi bagus juga kalau pada akhirnya dia yang mundur. Tanpa bermaksud menyombongkan diri, apakah masih kurang rasa menghargaiku dengan masih membalas smsnya dan menjawab teleponnya serta menyapa dengan kata-kata sopan dan pantas ? Padahal ada beberapa hal yang membutaku sangat gerah dengan pribadinya. Dan harusnya dia sadar serta bijak bahwa tidak selalu ada waktu kosong untuk bersms atau teleponan. Juga betapa sangat manusiawi jika kita lupa sesuatu hal.. Selama itu bukan hal yang sangat fatal…

Tapi sudahlah.. Ini menjadi pelajaran penting bagiku untuk mengenal pribadi seseorang dan berterima kasih untuk sebuah cerita lagi dalam perjalanan hidupku. Semoga, usahaku untuk menjadi pribadi yang lebih baik dapat terwujud… Hanya saja yang bersangkutan jadi merasa “Kacau” Sendiri.

Note : Maaf, aku sengaja tidak mencantumkan identitas apapun tentang yang bersangkutan demi menjaga nama baiknya..

Entah mengapa… hari ini aku sangat merindukanmu..
Hatiku tergoda untuk melihat sejenak sosok yang lama menghilang
Dari kehidupan nyataku…
Jarak yang teramat jauh tidak lagi menjadi penghalang
Untuk memandang sosok itu..
Yah…. Kemajuan teknologi membuatku bisa menatap wajah itu..

Sejenak, senyum tipis mulai menghiasi bibirku..
Menggeser segala rasa gundah yang merajai hatiku saat ini..
Seperti rekaman film yang diputar kembali..
Segala keceriaan dan tawa itu hadir kembali..
Kebersamaan sekian tahun meski terpisahkan jarak yang jauh..

Awalnya kita adalaha “teman” bertengkar..
Selalu ada saja celah bagimu untuk menggangguku ..
Rasa menang dan gembira akan kau rasakan saat kekesalanku tumpah..
Aku tidak akan lupa wajah itu.. Yang tertawa puas dan mengejek..
Sambil berlalu meninggalkanku yang dilanda kemarahan…
Dan hanya bisa menatapmu dengan benci..
Yah… membenci masa remajamu yang penuh kenakalan..

Sekian waktu kita tidak bertemu…
Tidak ada kesan luar biasa yang mebuatku merindukanmu…
Tetapi perjalanan hidup tidak bisa ditebak..
Kita bersua kembali meski hanya saling mendengar suara
Ada yang berubah..sosok remaja nakal kini berubah dewasa..
Ejekan dan celaan menjadi sanjugan dan perhatian..
Tawa yang dulu sangat kubenci, menjadi hiburan menyenangkan..
Dan kau pun mengatakan hal itu padaku…
Entah kekuatan ajaib apa yang membuat kita berani menyandarkan segala keresahan
Dan mencari kedamaian dalam diri masing-masing..
Kita terjebak dalam ikatan persahabatan menjadi rasa cinta..

Awalnya aku ragu untuk menerima cintamu..
Masa lalumu yang penuh petualangan cinta membuatku takut..
Aku tidak ingin tersakiti seperti wanita lain…
Tetapi kau pun mengatakan padaku,
Rasa takutmu untuk mencintaiku
Karena bagimu aku terlalu baik untuk dicintai oleh lelaki sepertimu..
Namun rasa cinta yang begitu besar membuatmu mampu mempertahankan rasa itu untukku..

“Ijinkan aku menghancurkan batu karang dalam hatimu”
Kata-kata ini terucap saat aku belum sanggup menerima cintamu..
Wanita berhati karang, julukan yang selalu kau bisikkan saat aku terdiam
Menggantung semua tanya dan cintamu..
Dan….. batu karang itu pun hancur oleh cintamu…
Hati sekeras batu karang di lautan menjadi serpihan dihantam gelombang cinta..

Sekian tahun saling mencintai meski terpisahkan oleh jarak..
Entah berapa kali kekuatan cinta itu diuji..
Putus sambung menjadi cerita perjalanan kisah kita..
Namun keyakinan akan bersama selamanya mampu membuat kita bertahan..
Meski terkadang aku sendiri merasa sudah sangat letih
Aku menyerah pada keadaan..
Kegigihanmu jua yang mampu membuatku bangkit dan bertahan lagi…

Mencintai tidak harus memiliki..
Itu juga pada akhirnya menjadi bagian cerita itu…
Saat dirimu sendiri tidak mampu untuk mempertahankan cinta itu
Membaginya menjadi dua cinta…
Kehilangan arah dipersimpangan jalan..
Dan tidak pernah sanggup menjawab untuk memilih jalan yang harus ditempuh…

Aku tidak ingin membuatmu terdiam terlalu lama dipersimpangan itu..
Aku ingin melihatmu bahagia meski itu menyakitiku…
Aku memberimu jalan untuk akhiri segala kebingungan itu..
Dan aku memilih mundur…
Melanjutkan jalanku tanpamu di sisiku…
Meski hatiku teramat sakit dan hancur…
Kurelakan dia yang mendampingimu..
Kuberikan senyuman terbaik dan ucapan tulus saat kau bersanding dengannya…

Saat ini….
Aku teringat lagi denganmu…
Saat air mataku menetes menangisi rasa sayang dan sepi yang tidak berujung..
Tangis yang bukan untukmu tetapi ada hati lain…
Aku merindukan semangat yang selalu kau teriakkan saat aku jatuh…
Aku merindukan gelak tawa dan celaanmu saat melihat air mataku menetes..
Aku merindukan saat kau mengatakan “Wahai wanita berhati karang, kuatlah…”

**Jakarta, 24 Agustus 2011**

Plaisir D’amour…..

Pertama kali mendengarkan lagu ini hampir 12 tahun yang lalu… Sangat menyukainya.. Kata-kata yang menyentuh…. Entah mengapa malam ini aku ingin mengulang dan mendengar lagu ini…

Plaisir d’amour ne dure qu’un moment
Chagrin d’amour dure toute la vie
Tu m’as quitté pour la belle Sylvie
Elle te quitte pour un autre amant

Plaisir d’amour ne dure qu’un moment
Chagrin d’amour dure toute la vie

Tant que cette eau coulera doucement
Vers ce ruisseau qui borde la prairie
Je t’aimerai te répétait Sylvie
L’eau coule encore elle a changé pourtant

Plaisir d’amour ne dure qu’un moment
Chagrin d’amour dure toute la vie

Kalau diterjemahkan, kira-kira bengini artinya….

Kenikmatan cinta hanya berlangsung sesaat
Sakit hati seumur hidup
Kau meninggalkan aku untuk Sylvie indah
Dia meninggalkan Anda untuk kekasih lain

Kenikmatan cinta hanya berlangsung sesaat
Sakit hati seumur hidup

Ketika air mengalir perlahan-lahan
Menuju sungai ini yang berbatasan padang rumput
Aku akan mencintaimu Sylvie diulang
Air masih mengalir telah berubah belum

Kenikmatan cinta hanya berlangsung sesaat
Sakit hati seumur hidup….

Lagu yang luar biasa sekaligus menggambarkan hati yang sangat tersakiti…. Seperti yang dirasakan penciptanya….. Jean de Florian tahun 1780 dan dinyanyikan Oleh Nana Mouskori tahun 1980-an….

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.