Ada cerita lucu sekaligus menyebalkan baru-baru ini kualami… Tentang seseorang yang begitu gampangnya menilai orang lain atau sesuatu hal dengan cepat dan cenderung negatif. Dari segi usia harusnya yang bersangkutan sudah sangat dewasa karena sudah kepala tiga.. Kalau dari cerita tentang pekerjaan dan pengalaman hidup harusnya dia ditempa menjadi orang yang bijak dalam menghadapi dan menilai sesuatu apalagi menyangkut pribadi seseorang.
Belum terlalu lama aku mengenal beliau ini.. Perkenalan dimulai dari situs jejaring sosial Face Book, dia meminta no handphone ku. Dari awal aku sudah berat untuk memberi no hp yang menurutku sangat privacy. Tetapi karena dia beberapa kali meminta dan kutolak dengan halus namun masih sopan dan pada akhirnya menggunakan jurus “marga” mamanya yang sama denganku, membuatku memberi no hp sebagai rasa menghormati..
Sudah sifatku kurang begitu antusias atau rajin sms atau teleponan dengan orang yang baru kukenal. Selain merasa kurang penting, kesibukan yang kualami dan juga rasa enggan selaku seorang wanita membuatku tidak pernah menanyakan kabarnya. Dari awal si pria ini beberapa kali sms menanyakan kabar.. Jika ada waktu maka akan kubalas seadanya dan tetap dengan prinsip untuk menghargai. Namun ada beberapa kali aku lupa karena kesibukan dan jika ingat akan kubalas dengan terlebih dahulu minta maaf karena terlambat membalas.
Setelah beberapa kali sms, beliau ini mengajak untuk bertemu atau istilah jaman sekarang Kopi Darat alias Kopdar. Lagi-lagi, penyakit engganku kambuh.. Sebisa mungkin aku menolaknya. Alasan pertama, aku merasa canggung dan kurang afdol seorang wanita baru kenalan dengan seorang pria langsung mau saja diajak ketemuan. Yah.. cara berpikir dan prinsip “kampung” masih melekat kuat di dalam diriku. Alasan kedua, entah mengapa aku belum merasa nyambung dalam komunikasi meski sebatas sms dengan dia. Ada beberapa kenalan yang juga belum pernah ketemu langsung tetapi bisa menjalin komunikasi dengan hangat dan terjalin kekompakan. Aku merasa pria satu ini bahasanya terkadang menggambarkan ada kesombongan dan kurang menjaga perasaan orang lain.
Dari beberapa kali ajakan kopdarnya, aku selalu menolak dengan halus dan terkadang memang karena lagi-lagi berbenturan dengan kesibukan. Maaf jika kesannya sombong aku merasa hal itu bukan yang terpenting untuk saat itu. Dugaanku tidak terlalu melenceng tentang pribadi beliau ini.. Beberapa kali dia memberi statement yang terlalu berani untuk menilai pribadiku tanpa pernah mengetahui banyak hal tentang aku. Dan seperti biasa aku masih mengabaikannya dan paling tersenyum membaca smsnya sambil mencoba mempelajari cara berpikir dan sifat teman baru yang satu ini, lalu putus kontak sama sekali… Sampai akhirnya aku sedang melakukan “pembersihan” nomor di hp dan fb ku ternyata nomornya pun ikut terhapus.
Awal bulan ini, aku menerima sms dari no yang tidak kukenal. Tetapi dari gaya bahasa, sepertinya si pengirim sepertinya sudah kenal lama denganku. Setelah aku tanya tentang si pengirim dan tidak lupa minta maaf karena nomor tersebut tidak ada kusimpang di list contact hp, pada akhirnya aku ingat lagi dengan pribadi satu ini. Berpijak dengan pikiran positif, aku kembali komunikasi dengannya lagi. Yah.. lagi – lagi dasar menghargai.. Dan dia kembali mengajakku bertemu.
Perasaan enggan itu masih sangat kuat.. Tidak bisa kupungkiri, entah mengapa perasaanku kurang bisa nyaman untuk bertemu atau kopdar dengan orang yang satu ini. Padahal dengan beberapa teman baru, rasanya aku tidak pernah seberat ini untuk kopdar. Setelah kupikirkan beberapa saat dan ”konsultasi” dengan sahabatku, aku pun mengiyakan untuk bertemu dengan dia. Jika dengan orang lain aku biasanya menentukan jauh-jauh hari tetapi dengan yang satu ini, aku minta hari itu juga sepulang kerja. Karena dia pernah mengatakan ingin kopdar sebelum berangkat ke luer kota untuk waktu yang lama dan dari pemikiranku sendiri supaya tidak ada lagi “utang” maka aku ingin kopdar secepatnya saja. Semua itu benar-benar di luar kebiasaanku yang selalu menyusun rencana untuk kopdar dengan seorang teman baru.
Dengan wajah kucel karena kecapean dengan aktivitas di kantor, celana jeans dengan atasan batik, sepatu sendal berhak pendek, bawa tas kerja ditambah tas kecil yang berisi baju dan sepatu fitness dan tanpa make up membuatku benar-benar berpenampilan cuek. Aku tidak peduli apakah orangnya akan ilfeel melihat penampilanku yang”ndeso’ dan ga karuan. Aku hnaya ingin “setor” muka sebentar lalu pulang.. Itu saja…
Aku duluan tiba di tempat yang telah disepakati, hampir ½ jam aku menunggu di kusri tunggu dekat pintu sebuah mall. Jujur, tidak ada rasa antusias atau penasaran sama sekali. Dengan santai aku duduk sambil sibuk berchit-chat di bb atau sesekali melempar pandanganku ke sekeliling melihat kesibukan dan lalu lalang orang-orang yang juga berada di mall tersebut. Di dekatku, ada beberapa orang yang duduk dengan kesibukan masing-masing dan kebanyakan sedang menunggu temannya. Dua kali dia sms untuk mengabari bahwa dia akan terlambat karena kemacetan lalu lintas dan sms yang terakhir menanyakan apakah aku datang bersama orang lain ? Setelah membalas semua sms dan memberitahu posisiku menunggu, aku kembali sibuk chit – chat dengan teman-teman.
Tidak berapa lama, yang bersangkutan datang. Aku berdiri sambil menugulurkan tangan dan mengucapkan salam “Horas, saya Farida Simanjuntak.”
Kalau yang aku tahu, kebiasaan orang Batak akan membalas spaan Horas dengan “Horas” juga, tetapi jawaban pria satu ini membuatku mengernyitkan dahi saat dia membalas sapanku, “Ternyata, benaran cantik”
Jika tidak ingat sopan santun dan sedang di tempat umun, ingin rasanya aku tertawa sekuatnya. Aku tidak tahu apakah itu perkataan spontan atau hanya basa – basi. Mengingat penampilanku yang hancur lebur dan juga sapaan Horas dariku yang dibalas dengan kata-kata tersebut.
Setelah saling sapa, kami mencari tempat untuk duduk sambil ngobrol-ngobrol. Akhirnya kami mampir di sebuah coffeshop. Awalnya pembicaraan masih biasa saja dan kadang diselingi lelucon. Tetapi entah mengapa aku mulai merasa bosan dan gerah dengan bahasa dan leluconnya. Apalagi saat dia bolak – balik membicarakan tentang “married”. Aku hanya bisa terkaget-kaget dan merasa aneh mendengar orang yang berani bicara seperti itu justru di awal perkenalan. Awalnya aku menggangap itu hanya sebagai lelucon tetapi karena bolak – balik dibicarakan menjadi ‘gerah” sendiri dan mulai menyebalkan. Bagiku, pembicaraan atau pun ajakan untuk hal serius seperti itu bukan kurang nyaman dibahas di awal pertemuan.
Perasaan tidak nyaman makin menguasai diriku saat beberapa hal yang dibicarakan ternyata bertolak belakang dengan prinsip dan pemikiranku. Terutama tentang hubungan sosial dengan dunia luar baik secara nyata maupun dunia maya. Maaf jika aku berpendapat, baginya pertemanan atau hubungan sosial di dunia maya kurang penting, sarat dengan kebohongan dan bisa menimbulkan perselingkuhan bagi yang sudah berpasangan. Sungguh pemikiran yang terlalu negatif. Tetapi bagiku semuanya kembali ke pribadi masing-masing untuk menyikapi hubungan sosial apapun. Begitu juga dengan sarana komunikasi Blackberry yang sedang menjamur, komunitas maupun perkumpulan tertentu seperti persatuan alumni sekolah (kebetulan saat itu aku cerita sedang aktif di persatuan alumni SMP).Baginya hal seperti itu tidak terlalu penting, membuat seseorang sibuk memikirkan orang lain dan tidak fokus dengan diri sendiri dan juga lagi-lagi alasan untuk sebuah kebohongan.
Awalnya aku menentang cara berpikirnya dengan halus dan mengungkapkan pandanganku dari segi positif tetapi ternyata orangnya balik menentang dan makin keras mengemukakan pendapatnya. Pada akhirnya aku hanya tersenyum sambil memalingkan muka, rasanya percuma adu argumen dengannya. Aku hanya mengatakan, “Baiklah..tiap orang punya pendapat masing-masing tetapi alangkah baiknya jika kita saling menghargai cara pandang dan pendapat tersebut dari sisi positif..”.
(Aku yakin, jika saat itu sahabatku ada di bersamaku dan melihat mimik wajahku saat mengucapkan pendapat terakhirku pasti dia akan tertawa dan berkata, “Aku suka melihat wajah dan senyum judesmu..”)
Pembicaraan masih berlanjut dengan beberapa topik tetapi lagi-lagi kembali ke ajakan menikah (benar-benar ga habis pikir dengan keberanian di awal pertemuan), wajahku yang menurutnya cantik dan lain dari boru simanjuntak yang biasanya tidak memiliki wajah menarik, sombong dan parbada /hobbi adu mulut (wahhh.. ini benar-benar membuatku semakin kesal karena apapun penilaiannya tentang boru Simanjuntak, harusnya dia jangan pernah melupakan kalau yang duduk dihadapannya pun asli 100% boru Simanjuntak. Lagian ada begitu banyak boru Simanjuntak cantik, baik dan memeiliki kepribadian baik yang kukenal dan terkenal.. Kemana aja sihhhh ??), dan beberapa percakapan yang menurutky justru menunjukkan kesombongan dan kurang bisa menghargai perasaan orang lain.. Rasanya semua itu cukup bagiku untuk “Kapok” bertemu lagi.
Aku beruntung beberapa sms, bbm dan telepon menyelamatkan diriku dari rasa kesal dan bosan yang kian menguasai diri. Dan semakin beruntung saan jam menunjukkan pukul sembilan lewat. Dengan alasan kostan akan dikunci pukul sepuluh, maka aku pun minta diri. Dan aku merasa seperti terbebas dari sebuah tekanan saat merasakan kembali suasana kamarku..
Dengan tidak sabar, aku mulai “uring-uringan” dengan seorang sahabatku yang juga teman satu sekolahku waktu di Balige. Aku ingin tahu pendapatnya sebagai seorang pria.. Awalnya dia tertawa tetapi setelah aku ceritakan semuanya dan beberapa pandanganya kenalan baruku itu dengan mantap dia berkata, “Ahhhh, sudahlah.. Jangan ceritakan lagi.. Bikin orang senewen aja.. Tetap jadi Farida yang kami kenal dengan kepedulian dan punya teman banyak..”
Sedang asyik-asyiknya chit – chat dengan sahabatku, tiba-tiba handphoneku berbunyi. Ternyata dari pria itu.. Mulailah dia “mengeluhkan” rasa kehilangannya, kesannya bertemu denganku, perasaannya, keinginannya untuk meminang wanita semargaku, “tawaran” menikah, sampai hal yang laing tidak masuk akal saat dia mulai mengatakan bahwa sepertinya dia merasakan “kehadiran” almarhum mamanya yang membimbingku untuk bertemu dengannya dan mendampingiku selama kami bertemu serta bisikan lainnya. Kurasa hal yang wajar jika aku kaget dan takut lalu protes kepadanya. Bagiku mereka yang sudah “pergi” dan tidur dengan damai di surga tidak perlu dibawa-bawa untuk urusan duniawi. Tetapi jawabannya sungguh membuatku kaget dan berani menyimpulkan bahwa dia sosok yang sombong dan kasar. Dengan percaya diri dia menjawab, “Bego kali pun.. Kau pikir mamaku mengganggu orang…bla..bla…bla..”
Bagiku kata “Bego” sudah terlalu berani diucapkan bagi seorang wanita.. Mungkin bagi sebagian orang aku terlalu sensitif, tidak memiliki sense of humour atau terlalu kaku tetapi kata-kata seperti itu bagiku tidak pantas diucapkan kepada orang lain. Dan saat itu aku memutuskan sampai di situ saja mengenalnya. Satu hal yang kujaga, jangan sampai proses belajar menjadi pribadi yang lebih baik menjadi terganggu saat aku harus berhadapan dengan orang seperti yang satu ini. Aku tidak ingin terpancing menjadi kampungan dan buang energi untuk melawannya adu argumen tentang hal-hal yang tidak penting.
Selama tiga hari berturut-turut setelah pertemuan itu, dia masih rajin mengirim sms sekedar menanyakan kabar dan masih kubalas demi menghormati dengan sewajarnya saja. Namun satu hari aku sangat sibuk seharian karena ada pekerjaan di kantor yang memang harus segera diselesaikan dan aku tidak punya waktu sama sekali untuk membuka hp. Ternyata dia sudah sms dari pagi. Malamnya aku baru membaca tetapi sudah ada sms baru yang isinya mengungkapkan kekesalannya karena aku tidak membalas smsnya dan juga tidak adanya kesempatan baginya untuk mendekatiku. Dengan rasa dongkol dan juga karena rasa letih yang luar biasa ditambah sedang buru-buru ke pertemuan dengan teman-teman untuk acara perpisahan aku membalas smsnya dengan tidak lupa diawali minta maaf lalu mulai menekankan kesibukan yang membuatku tidak selalu bisa membalas sms bahkan menjawab telepon yang ada. Ternyata dia membalas dengan nada sms yang juga tidak kalah menunjukkan kesombongan dan diakhir sms mengatakan kesediannya menungguku smapai punya waktu luang untknya.. Saat itu, emosiku benar-benar mulai memuncak.. Beruntung pertemuan dengan teman-teman mampu meredam semua rasa kesalku.
Keesokan harinya aku cuti karena adikku wisuda, saat kami di jalan dia kembali sms menanyakan kabar dan aku masih membalas. Tidak berapa lama dia menelepon tetapai karena suasana yang sedang ramai dan sibuk aku minta maaf tidak bisa bicara dengannya saat itu. Malamnya, aku buka hp ternyata ada sms lagi yang menanyakan suasana wisuda adekku. Dan kali itu tidak kubalas karena sedang ada acara dengan teman-teman SMU adek.
Sabtu, diadakan acara syukuran di rumah sepupuku untuk kelulusan dua adikku, wisuda dan ulang tahun. Saat sedang fokus untuk acara inti tiba-tiba spku berbunyi dan sebaris sms dari pria ini kembali tertera. Tetapi kali ini sms yang menggambarkan betapa sombongnya aku karena cantik dan rasa nelangsanya dia seklaigus penekanan bahwa dia tidak akan sakit hati dengan caraku dan semoga aku mendapat jodoh yang bagus sesuai impianku.. Ingin rasanya aku tertawa saat itu juga seklaigus sangat kesal membaca sms itu. Semakin hilang rasa menghargaiku untuk orang yang bisanya berpikiran picik seperti itu.. Tetapi bagus juga kalau pada akhirnya dia yang mundur. Tanpa bermaksud menyombongkan diri, apakah masih kurang rasa menghargaiku dengan masih membalas smsnya dan menjawab teleponnya serta menyapa dengan kata-kata sopan dan pantas ? Padahal ada beberapa hal yang membutaku sangat gerah dengan pribadinya. Dan harusnya dia sadar serta bijak bahwa tidak selalu ada waktu kosong untuk bersms atau teleponan. Juga betapa sangat manusiawi jika kita lupa sesuatu hal.. Selama itu bukan hal yang sangat fatal…
Tapi sudahlah.. Ini menjadi pelajaran penting bagiku untuk mengenal pribadi seseorang dan berterima kasih untuk sebuah cerita lagi dalam perjalanan hidupku. Semoga, usahaku untuk menjadi pribadi yang lebih baik dapat terwujud… Hanya saja yang bersangkutan jadi merasa “Kacau” Sendiri.
Note : Maaf, aku sengaja tidak mencantumkan identitas apapun tentang yang bersangkutan demi menjaga nama baiknya..