“Harga Diri ????” (Sepenggal kisah dari KL)

Hai, Farida,, kamu lagi sibuk ga ? Boleh datang ke kantor.. Ada konseling dan ini adalah TKW yang kamu pernah rekomendasikan sebagai orang yang baik dan rajin.” Itu perintah singkat yang kuterima dari atasanku di kantor Philimore Sdn Bhd Kuala Lumpur. Tempatku mengais rejeki dan memberiku banyak pengalaman selama 2 tahun.
Bergegas aku menuju kantor dan meninggalkan kesibukanku di Training Center (TC) atau rumah Konseling, yang juga merangkap tempat tinggalku. Aku tinggalkan sederet pesan kepada para TKW yang dititip di TC ku dan baru saja “menikmati” briefingku.

Aku jadi penasaran dengan “kasus” yang satu ini.. (ehmmm, kayak detektif aja gayaku…). Karena biasanya TKW yang pernah kurekomendasikan pada majikan adalah TKW yang memang benar-benar sudah kupercaya dan pandai bekerja.

Setibanya di kantor, aku langsung menuju ruangan konseling. Di sana telah ada 4 orangyang terdiri dari Tuan, Nyonya, TKW dan madam Pat yang menjadi atasanku di departemen Konseling. ” Baguslah kau datang. Saya sudah capek menanyakan masalahnya tapi dia tetap diam dan tidak mau memandang kepada kami. Saya tidak ingin terpancing emosi. Sebaiknya kamu uruskan sampai semua kelar..” Perintah yang membuatku harus benar-benar menyelesaikan kasus ini secepat mungkin dan pastinya ini masalah yang sangat serius…

Setelah say hello dengan majikan yang setahuku sangat baik, aku pun menanyakan inti permasalahan. Ternyata TKW ini kedapatan berciuman dengan seorang pria Bangladesh di halaman rumah si majikan dan tetangga sudah sering melihat.Awalnya majikan tidak percaya karena TKWnya adalah orang yang rajin dan sopan. Sampai akhirnya, tanpa sengaja majikan menangkap basah TKW itu. Dari pengakuannya, ternyata TKW itu sudah sering membawa pria itu ke rumah majikan dan mengakuinya sebagai boyfriend yang juga sering memberinya uang.
Majikan yang sangat kecewa dengan perilaku TKWnya bersikeras untuk langsung mengantar pulang ke Indonesia meski kontrak belum selesai. Karena ada kekhawatiran, dia akan berbuat lebih nekad lagi atau akan terjadi hal-hal diluar kendali majikan.

Majikan meninggalkan kantorku dengan gusar dan menitip pesan agar aku menguruskan semua hal yang dibutuhkan untuk memulangkan si TKW secepatnya. Aku memandangi TKW yang tetap tidak mau bicara dan hanya menunduk. Seolah-olah tidak ada lagi orang di ruangan itu. Hampir 30 menit aku membujuknya untuk bicara karena sama halnya dengan majikannya, aku pun ingin tahu alasan “kenekatannya” itu.
“Mbak, kenapa kamu bisa melakukan semua itu ? Apa majikanmu masih kurang baik ? Tolong hargai dan jawab saya. Saya benar-benar kecewa dan heran dimana harga dirimu sebagai wanita terutama sebagai seorang ibu yang memiliki 2 orang anak..” Kemarahanku benar-benar sudah memuncak dan aku sudah hampir tidak dapat lagi mengontrol kata-kata yang ingin kuucapkan. Bagiku tingkah lakunya sudah sangat merendahkan kaum wanita dan sekarang makin memuakkan karena dia sama sekali tidak menghargai siapapun.

“Harga diri ???? Harga diri itu hanya milik orang-orang terhormat. Sedangkan orang seperti aku tidak berhak punya harga diri. Benar, aku memang orang tidak tahu malu dan berterima kasih karena majikanku sangat baik dan memperlakukanku seperti keluarga sendiri.” Aku terkejut dengan ucapannya. Belum lagi aku selesai mencerna perkataannya, dia melanjutkan kata-kata yang diucapkan degan suara getir dan menahan air mata. ” Kakak mau tahu masa laluku ? Aku hanya seorang anak yang kelahirannya tidak diinginkan karena ibuku adalah seorang PSK. Aku dititip kepada Paman yang mau bermurah hati menampungku meski dia sangat miskin. Saat aku baru menikmati masa remaja, ibuku datang dan memperalatku sampai aku pun terjerumus untuk menjadi PSK. Mungkin sudah takdir bahwa dalam darahku mengalir darah seorang wanita yang tidak pantas disebut ibu dan sekarang aku pun begitu.” Aku semakin tercengang dengan pengakuannya yang begitu blak-blakkan dan penuh amarah. Tiba-tiba saja badanku lemas dan entah kemana kemarahanku yang tadi kuat menguasai raib begitu saja.

“Suamiku adalah pelanggan yang sering membookingku. Saat dia melamar dan berjanji mengangkat martabatku, baru kurasakan apa yang namanya cinta dan dihormati. Dia berjanji tidak akan mengungkit masa laluku. Walau berat karena keluarganya tahu masa laluku dan selalu menghinaku tapi semua kuhadapi dengan tabah karena aku yakin suamiku akan selalu melindungiku. Kami memiliki 2 anak dan selama berkeluarga, aku lebih banyak membiayai keluarga kami dengan berjualan gorengan karena suamiku hanya timer/calo di terminal. Tapi aku tetap menghormatinya. Sampai aku sering mendengar desas desus bahwa dia “rajin” bermain judi dan punya banyak pacar. Karena aku mulai gerah dengan berita itu, maka aku menanyakannya. Itulah awal kehancuran rumah tanggaku. Dia mulai kasar memaki dan memukuliku. Selalu mengungkit masa laluku dan meragukan kedua anak kami adalah darah dagingnya.” Tangisannya pecah dan kemarahan karena sakit hati yang terlalu dalam terpancar dari wajanya. Aku masih diam dan kehabisan kata-kata. Otakku benar-benar tidak bisa diajak untuk berpikir. Aku masih mencerna semua ceritanya.

“Dia juga sudah berani membawa wanita lain ke rumahku. Daripada batinku makin merana, aku nekad merantau ke Malaysia dan menitipkan anak-anak kepada Pamanku.” Tiba-tiba aku teringat surat yang pernah dititipnya. Aku bergegas ke meja kerjaku dan mengambil surat itu. Aku baca ulang, dalam surat itu suaminya minta maaf atas semua kesalahannya dan berjanji akan merubah semua perilakunya. Dia juga mengabari TKW ini kalau dia sudah mempunyai pekerjaan tetap sebagai seorang supir angkot. Diakhir surat, suaminya minta dikirimi uang karena angkotnya butuh reparasi. Aku letakkan surat itu di meja dan dia hanya memandangi lenbaran lusuh itu.

“Kak, setelah dia kirim surat ini, saya menghubungi ke kampung untuk menanyakan kebenaran isi surat itu. Memang benar dia sudah jadi sopir angkaot tapi dia tidak pernah melihat anak-anak. Saya pun mengatakan tidak dapat mengiriminya uang, kalau dia mau supaya menunggu supaya saya pulang dulu ke kampung setelah habis kontrak. Ternyata dia sangat marah dan kembali memaki saya. Lalu dia mengancam akan menceraikan saya dan menelantarkan anak-anak. Saat saya kalut dan tertekan, tiba-tiba pria Bangladesh itu hadir dalam kehidupan saya, dia bekerja sebagai tukang bangunan di sekitar rumah majikan. Dia sangat menghormati dan sering memberi saya uang. Hal yang tidak pernah saya dapat dari suami. Sampai semua terjadi. Tapi saya tidak menyesal sama sekali. Kakak benar, saya tidak punya harga diri dan saya bukan ibu yang baik. Harga diri hanya milik orang terhormat seperti kakak. Kakak beruntung memiliki hidup yang luar biasa.”

Kata-kata yang diucapkannya seperti tamparan keras bagiku. Yah.. aku sangat beruntung memiliki keluarga yang sempurna dan menjadi diriku saat ini. Aku tidak pernah khawatir orang akan menghina atau harus melakukan hal-hal yang dilarang agama hanya untuk bertahan hidup. Aku benar-benar malu, karena masih sering mengeluh dan merasa hidupku sangat sulit. Au selalu mengagungkan Harga Diri yang dijaga demi Nama Baik. Aku ingin menangis, entah mengapa aku menjadi sakit hati mendengar kisahnya. Mungkin tepatnya kecewa, karena TKW yang satu ini kukenal sebagai sosok yang ceria, pandai bekerja, dewasa, rajin, selalu ingin belajar, sopan dan selalu tempat curhat teman-temannya sesama TKW yang “terpaksa” ,menginap di TC ku karena berbagai masalah. Dia selalu kujadikan panutan dan leader bagi TKW lain, sampai majian memilinya atas rekomendasiku.

Aku meraih Counselling Form dan menuliskan laporanku. Dengan berat hati kutuliskan “Send Her Backto Indonesia, ASAP” lalu kutandatangani. Saat itu yang kuinginkan hanya pulang ke TC ku dan menenangkan diri. Aku tidak ingin menangis di hadapannya.

Aku berdiri dan melangkah ke arah pintu tanpa memandangnya. Tapi saat akan membuka pintu, kurasakan kakiku ditahan dan ternyata dia sedang memeluk kakiku dan menangis. Aku terkejut dengan yang dilakukannya, bagaimanapun aku tidak ingin dia merendahkan dirinya di kakiku. Aku menuntunnya berdiri dan dia memelukku sambil menangis.

“Kak, katakan sesuatu… Tolong jangan diam saja, maafkan saya. Saya terima jika kakak memaki atau menampar saya karena terlalu berat kesalahan saya. Kepercayaan kakak tidak dapat saya pegang. Saya juga sudah gagal menunaikan janji untuk jadi ibu yang baik seperti yang selalu kakak nasehatkan.”
Aku menguatkan hatiku untuk bicara dengannya. “Mbak, pulang ke kampung dengan baik-baik dan minta maaf kepada majikan. Setelah di kampung, peluk kedua anakmu dan berjanjilah kamu tidak akan kembali ke jalan yang salah. Biarkan suamimu, tidak usah pedulikan laki-laki yang sudah menginjak-injak martabatmu sebagai seorang wanita dan ibu. Saya percaya mbak bisa memberi kehidupan yang layak bagi anak-anakmu dengan kasih sayang dan melalui jalan yang benar. Banyak berdoa dan mohon ampun pada Tuhan. Saya juga minta maaf sudah bicara kasar.”

Setelah itu aku pun meninggalkannya yang masih terus menangis di ruang konseling. Setelah menyelesaikan urusan gaji dan tiketnya, aku pulang ke TC. Sesampainya di TC aku langsung masuk kamar dan tanpa bisa kutahan lagi, tangisanku pecah. Aku tidak peduli kalau TKW lain mendengarnya… Terlalu banyak “kenyataan” hidup yang kutemui selama kerja di perusahaan ini.

Harga Diri……. Sering kali kita bangga dengannya tapi sering kali juga kita merendahkan orang lain dengan perkataan itu. Bagiku semua orang punya Harga Diri, hanya saja sebagian orang tidak paham dan tidak tahu harus bagaimana untuk menjaga harga dirinya. Kaya atau miskin bukan ukuran untuk memilikinya karena harga diri tidak dapat dibeli. Kalau kita adalah orang-orang yang punya harga diri, “apakah perilaku kita sudah mencerminkannya ?” Entahlah….. Hanya diri masing-masing dan Tuhan yang mampu mengukurnya… HAl paling mudah yang dapat kita lakukan demi sebuah HArga Diri adalah saling meghormati dan belajar menghargai diri sendiri juga orang lain..

(Buat AW…terima kasih sudah menjadi inspirasiku, membuka mata hatiku untuk melihat kehidupan di luar sana dan bersyukur untuk kehidupan yang kumiliki… Semoga kamu bisa jadi IBU yang Luar Biasa dan Kebanggaan anak-anakmu…)

Adekku…. Aku merindukanmu…

Tanggal 04 Juni 2000, tepat 9 tahun lalu adekku Brata Mangapul Simanjuntak meninggalkan kami untuk selamanya… Sampai saat ini,duka itu masih terasa.. WAlau dalam kesendirian, aku selalu mengenangnya… Terkadang rasa rindu yang luar biasa memaksaku untuk mengambil fotonya dan “berbicara” dengannya.. Semua perasaan yang kupendam, kucurahkan.. Aku tahu, dia pasti mendengarku..

Adekku, maafkan kakak yang masih belum bisa tersenyum setiap mengenang dirimu.. Aku selalu berusaha tegar melalui tanggal 04 Juni dan 27 November tiap tahunnya, karena aku takut air mata itu masih selalu menetes… Aku belum bisa menepati janjiku.. Aku ingin tersenyum mengenangmu, tapi rasa kehilangan itu masih kuat mengekang perasaanku….

BAgi sebagian teman-teman mungkin sudah pernah membaca kisahku ini di Bataknews atau Blogberita… YAng kutuliskan saat peringatan ulang tahun Brata ke 23 tahun, 27 November 2007… Adekku… setidaknya, tulisan ini akan mewakili perasaan bersalah, kehilangan, duka dan kebahagiaan yang kurasakan karena memiliki adek sehebat dirimu…

Adekku.. Aku tahu, kau pasti bahagia di rumah Bapa… Sampai kapan pun, kami selalu mengasihimu, merindukanmu dan mengenangmu…. Saatnya akan tiba, kita akan bertemu lagi di rumah Bapa….
Brata.. kakak sayang dan merindukanmu…. Maafkan kakak masih selalu menangis….
——————————————–
27 November 2007
HUJAN YANG MEMBASAHI bumi dari pagi di hari Minggu membuatku malas untuk beraktivitas. Untuk mengusir kejenuhan aku mendengarkan lagu-lagu Batak. Tak terasa sudah bulan November, musim hujan sudah mulai datang (pantesan grup musik Guns N Roses menciptakan “November Rain”) Tiba-tiba perasaanku sangat sedih dan tanpa kusadari air mataku menetes.

Yah, aku menangis dan tidak bisa ku tahan, aku sampai sesegukan. Lagu itu… Membuatku mengingatnya lagu.. Lagu yang mengantarnya ke rumah terakhirnya. ” Nahinali Bakkudu”, lagu yang sampai detik ini mamaku sangat benci mendengarnya karena akan membuatnya menagis dan berduka lagi, lagu yang membuatku merasakan jasadnya seolah masih di depanku.

Ingatanku melayang ke masa 7 tahun lalu. “Aku sangat membencimu! Aku menyesal pernah punya adik sepertimu.. Kau hanya orang paling bodoh di dunia ini…Dasar pencuri !” Pagi itu teriakanku sudah memecah keheningan di rumah kami. Dengan kasar kurebut kostum Tim Azzuri favoritku dengan nama Del Piero dari tangan adekku Brata. Emosiku sangat memuncak, ingin rasanya kuhajar dia, seperti dulu tapi dia sudah jauh lebih tinggi dariku, jadi mudah aja baginya mengelak.

Entah mengapa, dari mulai anak-anak kami berdua tidak pernah akur. Selalu bertengkar bahkan baku hantam. Tidak jarang bibirnya atau bibirku berdarah. Setelah itu kami akan dihukum tapi lebih sering aku yang kena akibatnya dari bapakku. Kebencianku makin menumpuk. Penyesalan karena punya adik sepertinya. Mungkin karena dia anak laki-laki paling besar dan ditunggu makanya keluarga besarku sangat sayang. Padahal bagiku dia sangat bodoh dan nilainya selalu memalukan. Dibandingkan nilai kakak dan adiknya, dia hanya akan jadi pelengkap penderita.

Sejak dia lahir, aku merasa makin tidak adil. Kenapa bapak selalu memanjakannya yang bagiku sangat bodoh dan sering marah padaku padahal prestasiku baik. Aku tumbuh jadi pemberontak kecil dan penuh kebencian saat melihatnya.

Seperti pagi itu, saat kujumpai kaos Del Piero yang baru dibeli bapak tapi sudah hilang. Dan aku menjumpai di dalam lemarinya yang selalu berantakan. Dengan kesal kuhantamkan baju itu ke badannya. Aku siap-siap menerima aksi balasan darinya. Tapi dia hanya diam dan memandangku dengan tatapan yang lain dari biasanya. Tatapan yang sangat sedih.

“Ada apa ini ? pagi-pagi udah ribut lagi kalian berdua. Sudah besar tapi tidak ada malu …” Ternyata bapakku terbangun mendengar teriakanku.

“Kenapa kakak sangat membenciku ?” Aku terkejut mendengar pertanyaan yang sangat pelan itu.. Aku merasa emosiku tibaa-tiba seperti diserap oleh kata-kata yang dia lontarkan… Kami semua terdiam. Aku menundukkan kepalaku, rasanya tenagaku habis.

“Sudah, cepat mandi nanti terlambat ke sekolah” Bapak yang juga terkejut dengan pertanyaan adekku, menyuruh kami bersiap-siap.

Di sekolah aku tidak bisa konsentrasi… Pertanyaan adekku terus terngiang dan aku merasa hatiku sangat hampa. Yah… kenapa aku sangat membencinya selama ini ? Dia tidak pernah mengganggu siapa pun. Dia jenis orang yang sangat pendiam dan mungkin terlalu introvet.

Keesokan harinya aku berangkat ke Siantar untuk Retreat dari sekolah selama 3 hari. Selama itu juga batinku mengalami pergolakan yang luar biasa. Aku sangat merindukan adikku dan ingin minta maaf. Sepulang dari retreat, aku berlari ke rumah dan mencarinya. Begitu pintu kubuka, dia sedang duduk sambil memainkan keybord kesayangannya. Begitu dia lihat kehadiranku, dia langsung berdiri sambil menundukkan kepala dan berjalan keluar.

Mendekati pintu, aku memanggilnya. “Brata….” lidahku rasanya kelu dan tidak bisa mengucapkan apa-apa. “Hm…” jawabnya sambil terus menundukkan kepala. Aku ulurkan tanganku, “Kakak minta maaf”. Hanya itu kata-kata yang mampu kuucapkan.

Dia memandangku dengan terkejut dan seperti tidak percaya. Aku meraih tangannya dan kami bersalaman. Tanpa mengucapkan apapun, dia pergi. Beberapa hari kemudian, ompung boruku menyuruh bapak membawa adekku berobat ke dokter spesialis di siantar karena dia terlalu sering sakit dan batuk. Aku mulai merasa tidak tenang tapi ada kebahagiaan kurasakan, Brata mulai sering mengajakku berjalan-jalan naik sepeda motor kesayangannya dan kami mulai sering bercanda.

Bapak dan mama membawanya ke Siantar, malam harinya sepulang berobat aku melihat mereka seperti berunding. Tapi aku tidak bisa mendengar dengan jelas. Keesokan harinya, bapak minta ijin dari kantor dan membawa Brata ke medan. Kata mama sebelum mereka berangkat, dokter di Siantar curiga ada seperti daging di paru-paru adekku. Seminggu lebih mereka di medan dan aku sibuk dengan persiapan Ebtanas dan mengurus 2 adekku yang lain juga ompungku. Setelah hampir 2 minggu di Medan, mereka pulang tapi hanya mau mengambil barang-barang karena keesokan harinya mereka harus ke Medan lagi dan langsung berangkat ke Jakarta. Tapi tidak ada yang mau memberitahuku, sakit adekku.

Sebelum berangkat, Brata minta ijin supaya dia bisa memakai kaos azzuri, tanpa merasa berat hati aku beri kaos kesayanganku itu. Tapi dia tertawa dan bilang sudah punya yang baru, yaitu Inzaghi. “Jadi nanti kita main sepak bola lagi ya kak, kita jadi tim tangguh. Aku ganteng kan seperti Inzaghi? Makanya rambutku ku potong pendek seperti dia.Tapi mana ada Del Piero jadi kiper? Biasanya kakak kan jaga gawang kita, tapi jadinya berantem melulu sama anak tetangga.”

Kami tertawa bersama dan saling meledek. 2 bulan mereka di Jakarta dan aku tidak tahu ada apa dengan dia. Tiba-tiba aku menerima kiriman uang Rp 50.000 yang Brata kirim dari sebagian pemberian orang yang menjenguknya. Hatiku makin tidak tenang. Bersama uang itu dia kirim surat yang kata mama dia tulis dengan menahan sakit yang luar biasa.

“Aku minta maaf selama ini banyak salah. Tolong doakan supaya aku cepat sembuh.”

Tanpa sengaja, seorang saudara keceplosan cerita kalau Brata sakit kanker paru-paru dan parah. Aku sangat terkejut, langsung aku berlari ke rumah Inanguda yang menjaga kami. Aku tanya dia, tapi inanguda pura-pura sibuk dan menyuruhku pulang. Sambil menangis aku telepon malam itu juga ke Jakarta.

“Mama ga perlu bohong lagi, Brata sakit kanker kan? Kenapa mama jahat, merahasiakan dari aku?”

“Ini semua Brata yang minta, dia mau Farida lulus Ebtanas dan masuk Perguruan Tinggi Negeri. Dia bilang sayang sama farida.”

Sejak itu, Brata tidak mau bicara denganku. Hari terakhir Ebtanas, mereka pulang ke Medan. Katanya mau berobat di Medan. Hari yang mendebarkan, setelah 2,5 bulan aku akan berjumpa Brata. Dengan semangat aku memasaak kue bolu yang sangat disukainya. Bertiga dengan adekku yang di Balige kami buat sampai karton pembungkusnya. Sampai di rumah Paktua, aku ke dapur dan melihat bapak yang rambutnya sudah memutih dan kurus. Langsung bapak ku peluk dan dia menanyakan ujianku.

Waktu aku mau masuk ke kamar, bapak mengatakan adekku tidak bisa lagi makan apapun. Dan yang terpenting jangan menangis karena dia sangat benci orang menangis. Aku kuatkan hati dan memaksa untuk tersenyum. Kulihat Brata terkejut melihatku dan mukanya ditutupi.

“Keluar..” Teriaknya.

Mama memberiku tanda supaya keluar. Aku menangis dan menutup pintu. Akhirnya, mama menyuruhku masuk. Ternyata dia baru menangis. Sambil mengusap tangannya aku mulai cerita yang lucu-lucu tapi dalam hati aku menangis. 2 minggu aku merawatnya di rumah dan akhirnya masuk RS Herna karena kondisinya kian memburuk.

“Aku baru menyadari ternyata kakak sangat baik dan aku menyayangi kakak.” Tiba-tiba Brata mengatakannya padaku sehabis aku membantunya buang air kecil. (Brata sudah tidak bisa apa-apa lagi, bahkan untuk memalingkan muka harus dibantu).

“Aku juga sangat menyayangimu dan bangga punya adek seperti Brata.”

4 Juni 2000 pukul 10.00 Brata tiba-tiba sesak nafas dan muntah. Karena malamnya dia mencuri-curi memakan kepala ikan mas arsik, makanan favoritnya. Dan saat itu dia mengatakan sangat puas dan yakin esok hari pasti akan sembuh.

Sebelum dibawa ke ICU, dia minta aku memimpin doa untuknya. Sambil menangis aku berdoa untuknya. Selama di ICU aku menemaninya dan Brata selalu mengenggam tanganku walau matanya tertutup. Kadang air mata menetes dari kedua matanya. pukul 4.55 Brata mulai gelisah dan jantungnya makin melemah. Tim dokter mulai memompa jantungnya. Aku lari keluar dan memanggil bapak dan mama. Mereka masuk ke ICU, saat bersamaan tanteku mengajak untuk menelepon keluarga yang lain.

Rasanya hanya 5 menit aku keluar, saat aku masuk ke ICU aku lihat bapak memeluk mama yang menangis sambil memanggil nama Brata. Dokter sedang mencabut semua selang dan alat bantu pernafasannya. Aku mendekatinya dan memanggilnya.

“Pak, adek sudah sembuh? Mau pulang sekarang?”

“Far, adek sudah pergi. Adek pulang ke surga.”

Dengan emosi aku mulai menarik badan Brata untuk duduk, aku tidak percaya. Hanya 5 menit, dia tidak mau menungguku. Aku histeris dan teriak merasa dibohongi mereka. 2 satpam datang dan menarikku keluar.

Saat itu gerimis seolah-olah mewakili kedukaan yang dirasakan keluarga kami. Pukul 5.00 WIB Brata pergi untuk selamanya tanpa mau menungguku. 3 hari Brata disemayamkan di rumah dan selama itu juga lagu Nahinali Bakkudu dinyanyikan di rumah kami. Karena kata Bapak, sewaktu sakit, Brata sangat menyukai lagu ini. Dan pernah sambil bercanda dia minta kalau tiba-tiba meninggal, lagu ini mengiringi kepergiannya. Sejak saat itu, dia selalu menyanyikan atau mendengar lagu ini.

Ah…. tidak terasa, duka itu membuatku menangis dan menyebut namanya. Padahal, Brata selalu berpesan, “Aku benci dengan air mata, jangan pernah menangis untukku karena aku tidak akan mati karena sakit ini. Justru penyakitku akan kumatikan.”

Maafkan aku dek, karena masih terus menangis dan belum bisa jadi kakak yang baik. 27 November ini, ulang tahunmu yang ke 23 tahun. Bagi orang lain kau sudah meninggal tapi bagiku kau masih hidup dan sedang berada di suatu tempat yang jauh.

Seperti tahun-tahun yang lalu, aku pasti akan merayakan ulang tahunmu walau sendiri. Brata memang spesial bagiku karena 27 November 2004 aku wisuda, itu kadoku untuknya. Selamat ulang tahun adekku… Semoga damai dalam tidur panjangmu… Suatu hari nanti kita pasti berjumpa. Semoga aku bisa menerima kepergianmu… Suatu hari nanti…

NA HINALI BANGKUDU

Na hinali bangkudu da sian bona ni bagot
Beha ma ho doli songon boniaga so dapot
U-e amang doli, o amonge
Boniaga so dapot, langku do pe masa onan
Beha ma ho doli tarlompo ho parsombaonan
U-e amang doli, o amonge
Atik parsombaoanan dapot dope na pinele
Beha ma ho doli songon buruk buruk ni rere
U-e amang doli o amonge
Mate ma ho amang doli
Mate di paralang alangan da amang
Mate di paraul aulan

Mereka pun ingin bahagia

clip_image002

Seorang anak dilahirkan ke dunia ini diawali dengan tangisan. Tangisan bahagia dari orang tua dan tangisan awal dari kehidupan si anak. Seorang anak terlahir ke dunia ini sebagi simbol cinta kasih orang tuanya. Anak adalah harta yang sangat berharga, dinantikan setiap pasangan dan diharapkan sebagi penerus yang akan selalu membawa kebahagiaan juga pembaharuan dalam sebuah keluarga.
Tapi tidak semua anak merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Sering kali masa kecil yang seharusnya diisi dengan keceriaan, limpahan kasih sayang dan membentuk karakternya justru direnggut oleh kehidupan ini. Pelakunya justru orang-orang yang seharusnya menjadi tempat berlindungnya.
Kita lihat saja di hampir seluruh jalan raya yang ada di kota-kota besar banyak dijumpai anak-anak yang seharusnya menikmati masa kecil justru bergulat dengan kehidupan yang keras. Harus berlomba dengan waktu, bersaing dengan “penghuni” jalan raya lainnya dan mempertaruhkan kselamatan dirinya hanya demi sesuap nasi.
Mereka kerap dipanggil anak-anak jalanan, gelandangan, pengemis dan sebutan lainnya yang membuat mereka harus “bangga” sebagai orang-orang terbuang dan terhina. Kehadiran mereka selalu dipandang penuh curiga dan segala tuduhan siap dilayangkan atas diri merka jika terjadi sesuatu hal yang tidak menyenangkan di luar sana.
Boleh dikatakan mereka tidak pernah merasakan kelembutan apalagi kasih sayang. Hidup telah menempa mereka menjadi manusia yang tidak punya rasa hormat, takut, kasar dan tidak punya jati diri. Yang mereka tahu hanyalah bagaimana bertahan di arena kehidupan yang sangat keras dan mengumpulkan recehan demi recehan hanya untuk sebuah setoran kehidupan. Alam jadi sahabat sekaligus musuh mereka. Debu dan asap kendaraan sudah jadi udara yang mereka hirup setiap harinya, bentakan dan makian tidak lagi membuat mereka sakit hati, panas dan hujan sudah membuat tubuh kecil mereka kebal terhadap berbagai penyakit. Bagi mereka, arti hidup ini tidak bermakna sama sekali. Mereka hanya tahu, kehidupan ini sangat kejam dan pilih kasih.
Aku teringat sewaktu kuliah di bogor, aku dan beberapa teman kost membuat kelompok belajar khusus buat anak jalanan yang tinggal tidak jauh dari tempat kost kami. Sangat memilukan, perkampungan kumuh yang mereka diami hanya dibatasi jalan kecil dengan sebuah kompleks perumahan mewah. Anak-anak itu mayoritas berprofesi sebagai pengamen jalanan. Mereka biasa beroperasi di jembatan penyeberangan di depan terminal Baranang Siang Bogor, kampus dan sepanjang jalan raya Padjajaran Bogor. Menurut mereka, itu sudah ada yang atur jadi tidak boleh asal serobot lahan pengamen lain. Kami memulai proses belajar pukul 18.30 – 20.00 WIB, karena mereka harus “cari duit” dulu. Aku dan teman-teman yang mengunjungi tempat tinggal mereka.
Suasana belajar yang panas dan pengap karena rumah yang dijadikan pusat belajar hanya sebuah “bangunan” dari seng bekas dan berlantai tanah juga sangat sempit, tidak menyurutkan semangat mereka untuk belajar. Lucunya, yang belajar hanya sekitar 10 – 15 orang tapi yang memasuki rumah itu lebih dari 20 orang hanya untuk menonton proses belajar mengajar. Tidak jarang, ketika sedang asyik belajar terjadi keributan kecil karena ada yang terdorong atau tidak sengaja memijak tangan anak yang sedang belajar. Antusias anak-anak dan orang tua terutama kaum ibu sangat tinggi. Mereka bilang, “Kapan lagi bisa belajar dengan gratis dan dibagi hadiah lagi.” Mereka menjadi sahabat kami, dan di tengah-tengah mereka aku justru merasakan ketulusan. Suasana belajar yang ceria dan penuh semangat menjadi hiburan tersendiri bagiku dan teman-teman.
Kami mengadakan kelompok belajar 3 kali dalam seminggu. Dan itu menjadi hari yang sangat dinantikan anak-anak. Aku harus mengakui, ternyata daya tangkap dan semangat belajar mereka sangat tinggi. Tidak jarang, sebagian dari anak-anak didik kami datang ke kost untuk belajar walau bukan saatnya. Dan ini yang sering membuat masalah antara kami dengan penghuni kost lainnya. Terkadang, ada saja yang mengusir mereka dengan kasar bahkan pernah ada yang berani menjewer karena merasa “jijik” dengan penampilan anak-anak itu. Aku tidak bisa menyalahkan sikap mereka, tapi juga tidak dapat menerima kekasaran mereka.
Beragam cerita kehidupan anak-anak ini membuat aku semakin bersyukur dengan apa yang sudah kuterima selama ini. Ada seorang anak yang bingung kalau ditanya siapa nama Bapaknya karena selama ini sudah ada 3 pria yang tinggal bersama keluarga besarnya dan dipanggil bapak. Ada juga seorang anak yang sangat pendiam, saat aku berhasil mendekatinya baru dia cerita kalau sejak kecil sudah mengalami kekerasan fisik dan selalu disuruh diam atau tidak boleh protes apapun. Jadi selalu merasa takut dengan orang yang lebih tua. Ada juga seorang anak yang tidak pernah kenal orang tuanya karena dia dibesarkan sepasang kakek dan nenek yang juga pengemis. Dan berbagai cerita kehidupan lainnya tentang hidup mereka yang keras.
Ada satu hal yang tidak dapat kulupakan, saat seorang anak berkata kepadaku, “Mbak… Mau ga nyuapin Ade ? Karena Ade ga pernah merasakan disuapin seperti anak lainnya.. ” Aku sempat terdiam dan tidak menyangka kalau hal sesederhana itupun belum pernah dirasakan Ade. Aku mengajaknya ke kostan dan membelikan sebungkus nasi. Hari itu aku menjadi baby sitternya. Aku menyuapinya, memandikan, mengajak jalan dan bercerita tentang banyak hal.. Sesaat sebelum pulang, dia bertanya harus bagaimana kalau ada orang berbuat baik… Ya, Tuhan ternyata dia pun tidak tahu cara mengucapkan “terima kasih”.. Aku mengajarinya untuk mengucapkan terima kasih setiap ada kebaikan yang telah dilakukan oleh seseorang kepadanya. Dengan malu-malu Ade mengucapkan, “ Terima kasih, mbak”.. Aku memeluknya.. Aku hanya ingin dia tahu bahwa masih ada kasih sayang untuk mereka.
Tapi kelompok belajar kami harus bubar saat sekelompok orang mulai merasa terganggu. Mereka adalah Koordinator anak jalanan. Mereka mulai melakukan hal-hal yang kurang terpuji, sampai pelecehan baik melalui kata-kata maupun fisik. Hal ini dialami seorang temanku. Saat itu kami dalam perjalanan pulang, situasi jalanan yang gelap, licin dan agak mendaki membuat kami susah untuk berjalan. Karena sudah kebal dengan kata-kata yang melecehkan, kami cuek saja saat mereka mulai mengganggu. Mungkin karena kesal, salah seorang dari mereka menangkap tangan temanku yang berjalan paling belakang. Lalu pria itu meremas bagian bokongnya (maaf)… Sejak saat itu teman-teman tidak berani lagi dan anak-anak itupun bercerita kalau mereka diancam akan dihajar sampai babak belur kalau berani belajar lagi. Alasan koordinator mereka, setoran menjadi kurang dan anak-anak itu semakin malas. Padahal kenyataan yang kulihat, setiap sore para kaum bapak dan koordinator kumpul di sebuah lapangan dan main judi, uangnya mereka peroleh dari hasil setoran anak-anak.
Itu hanya sebuah pengalaman yang tidak akan kulupakan, bahwa di luar sana banyak anak yang telah kehilangan masa kecil dan keceriaan mereka. Dibalik tubuh kecil mereka, tersimpan beban yang sangat berat. Dan tidak seorang pun yang mau mengambil beban itu. Anak-anak itu pastinya ingin merasakan kebahagiaan seperti anak lainnya. Ingin merasakan dimanja, mengenal banyak hal dan belajar. Tapi hidup adalah sebuah pilihan, dan pilihan bagi mereka hanya satu yaitu bergumul dengan kekejaman hidup karena kemiskinan. Ditambah lagi eksploitasi yang dilakukan orang-orang dewasa yang seharusnya menjadi pelindung mereka. Belum lagi kejar-kejaran dengan oknum petugas yang serigkali memperlakukan mereka dengan kasar. Anak-anak itu juga manusia, bukan barang yang bisa diperlakukan secara kasar dan semena-mena. Seandainya kita bisa mendengar dan mengerti isi hati mereka, hanya satu hal yang mereka inginkan “Kebahagiaan.” Tetapi itu pun hanya sebuah mimpi dan barang mewah yang tidak sanggup mereka raih… Kehidupan ini akan terus berputar dan anak-anak itu masih berjuang di jalanan yang keras…

(Tahun 2005 aku ke Bogor dan ternyata perkampungan itu sudah rata dengan tanah. Menurut cerita teman-teman, terjadi kebakaran saat tengah malam. Berbagai dugaan muncul, tapi aku tidak peduli dengan spekulasi itu karena kesedihan yang kurasakan bahwa tidak ada yang tahu keberadaan sahabat-sahabat kecilku)

My Little Angel…..

Asido Christian Nehemia Simanjuntak…clip_image002
Nama yang diberikan kepadanya… Adikku paling kecil yang menjadi harta paling berharga di keluargaku. Kehadirannya mampu menghapus duka yang menyelimuti keluargaku sejak kepergian adekku Brata Mangapul Simanjuntak kembali ke rumah Bapa tahun 2000 lalu.

31 Mei 2002, keajaiban itu nyata. Asido lahir dan menjadi awal sebuah perubahan yang luar biasa dalam keluarga. Kebisuan dan wajah-wajah penuh duka telah diganti dengan kebahagian yang luar biasa. Tangisannya membuat kami semua selalu berebut untuk menggendongnya. Tawanya membuat semua masalah hilang. Kenakalannya, menjadi “PR” bagi kami untuk membuat langkah yang bijak. Tipuan kecil-kecilan yang sekarang telah dia ciptakan, membuatku sadar bahwa malaikat kecilku semakin pandai.

Tahun ini dia akan berulang tahun ke 7… Sebuah harapan terucap dari bibir mungilnya, “Adek mau jadi pemain sepakbola dan pemain musik.” Baginya, kedua hal tersebut yang paling mengagumkan, sedangkan prestasi sekolah hal biasa. Alasannya, “Kakak dan abang kan sudah pandai di sekolah, jadi sekarang adek mau lain sendiri. Supaya mama dan bapak makin bangga.” Hehehehehehehe, ada saja jawabannya kalau sudah diingatkan tentang prestasi sekolah.

Asido sosok yang unik, karena Percaya dirinya sangat tinggi. Anak paling cuek yang pernah kujumpai, lebih suka main sendiri dan pergaulannya dengan orang dewasa. Ada saja tingkah lakunya yang membut kami tertawa atau mengerutkan dahi. Satu hal lagi yang jarang kujumpai dari anak seusianya. Kepedulian dan rasa prihatin yang dia miliki telah membuat Asido menjadi sosok yang peduli dengan keluarga. Contohnya, saat adekku Surya bilang kalau Bapak sudah pensiun maka Asido tidak boleh minta macam-macam dan tidak boleh kuliah di Pulau Jawa. Asido langsung mengiyakan dan bilang kalau dia akan kuliah di Siborong-borong saja, hahahahahaha… Tinggal surya yang kena teguran dari bapak…

Semua tingkah laku, celoteh dan kenakalan Asido adalah semangat yang selalu membuatku mampu bertahan. Saat di Kuala Lumpur, aku dapat kabar Asido kecelakaan. Saat itu juga aku menangis histeris di telepon. Padahal saat itu di kantor masih banyak orang. Mendengar berita itu membuat sebagian dari nyawaku rasanya sudah melayang. Tapi Asido berkata, “Kakak jangan nangis, doakan Adek supaya sehat selalu. Lagian adek kan tidak mati, hanya memar aja.. Kecillll, tadi adek sebentar kok nangisnya.. Jadi kakak jangan sedih, malu sama kawannya.”

Adekku… kau ga akan mengerti perasaanku saat mendengar berita itu. Seandainya bisa, aku akan menggantikan tiap rasa sakit yang kau alami. Yah, aku ga mau lagi merasakan sakit dan duka saat orang yang kusayangi sakit atau meninggalkanku.. Asido adalah segalanya bagiku dan keluargaku.. kelahirannya telah mengembalikan semangat hidup kami.

Asido… Selamat Ulang Tahun adekku…. Kakak akan selalu menjagamu dan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu… Asido adalah anugerah Tuhan luar biasa dan mujizat yang jadi nyata dalam kehidupanku… Panjang umur selalu dan sehat ya dek…. Jadi yang terbaik dalam hidupmu.. Tuhan, tolong jaga dan selalu berkati malaikat kecilku… I love my little Angel…………..

Apakah Wanita Selalu Lemah ?

gambaran-diri-219 Beberapa waktu lalu aku dalam perjalanan      pulang   dari Balige menuju Medan. Ada hal menarik yang kutemui di perjalanan yang membuatku berpikir tentang martabat seorang wanita. Terutama di dalam keluarga Batak yang selalu mengagungkan istilah “Boru ni Raja”. Juga gambaran betapa lemahnya seorang wanita.

Sewaktu mobil yang kutumpangi berada di Siantar, di tengah jalan ada seorang wanita menghentikannya. Karena sudah malam dan kondisi jalan yang gelap, sopir menghentikannya kira-kira 5 meter dari tempat wanita itu berdiri. Dengan tergesa-gesa wanita yang kutaksir kira-kira berumur 45 tahun langsung duduk ke sampingku. Dia hanya mengenakan stelan baju tidur sambil menenteng sebuah plastik hitam dan tas kecil, di bahunya ada sebuah sarung. Belum lagi mobil berjalan, tiba-tiba pintu terbuka dan seorang laki-laki menarik tangan wanita itu. Lelaki itu berkata, “Unang laho ho, hatop turun. Ingkon mangkatai ma jo hita. Amang sopir paturun hamu jo inanta on, ai pardijabu hu do ibana.”  ( Kamu jangan pergi, cepat turun. Kita harus bicara. Bapak sopir turunkan wanita ini, dia istriku). Wanita itu membalas, “ Dang olo ahu, dang tahan be au rap dohot ho. Nga leleng hutaon sude pangalahom. Nga sae be sai disusai ho ngolunghu. Urus ma gellengta i.” (Aku tidak mau, aku tidak tahanlagi bersamamu,. Sudah terlalu lama aku menahan semua perilakumu. Sampai di sini saja kau menyusahkan hidupku. Kau uruslah anak kita).

Sempat terjadi tarik menarik menarik diantara keduanya dan saling teriak, sehingga penumpang lain mulai potes dan menyuruh wanita itu turun. Tapi wanita itu bersikeras tidak mau turun. Laki-laki itupun membanting pintu mobil dengan keras sambil menyumpah dan mengancam. Sopir lalu menyuruh wanita itu untuk segera turun karena dia tidak ingin ada hal-hal buruk terjadi di perjalanan. Wanita itu terus memohon untuk ikut saja. Tapi sopir dan penumpang lain tidak mau dan tetap menyuruh wanita itu turun untuk menyelesaikan masalah dengan lelaki itu. Karena melihat tidak ada harapan untuk ikut, maka wanita itu turun dan sambil menangis dia berkata, “Ah, tahe.. Borat nai sitaononhon.” (ah, betapa berat bebanku). Dia pun menutup pintu mobil. Aku hanya bisa memandangi wanita itu dari jendela, dia berlari ke seberang jalan dan menghilang di kegelapan malam. Mobil yang kutumpangi pun melanjutkan perjalanan.

Aku terdiam dan merasa terpukul dengan kejadian itu. Aku berpikir wanita itu nekad meninggalkan keluarganya mungkin karena sudah tidak tahan dengan perlakuan sang suami. Hal ini kusimpulkan dari wajah dan tatapan matanya yang menggambarkan rasa putus asa, ketakutan dan dia tidak lagi berpikir untuk berpakaian yang pantas jika memang dia ingin melakukan sebuah perjalanan. Rasa tidak percaya diri dan dikecewakan telah membutakan mata hati maupun perasaannya. Bagaimana mungkin dia nekad bepergian malam hari dan pastinya meninggalkan anak-anaknya ? Belum lagi dia harus dikejar sang suami yang ternyata tidak rela kalau si istri meninggalkannya. Pikiran itu terus berkecamuk dan membuatku merasa miris dengan kedudukan wanita dalam rumah tangga.

Dalam keluarga Batak dikenal istilah “Anak ni Raja dan Boru ni Raja”. Bila seorang anak perempuan akan menikah, maka orang tua akan selalu menasehatinya untuk berperilaku sebagai Boru ni Raja (Puteri Raja), yang harus menjaga sikap dan menjadi seorang istri juga ibu yang baik. Dia harus mengabdi kepada sang suami. Karena sikapnya akan mencerminkan ajaran dan nama baik keluarganya.

Tetapi yang sering terjadi adalah, ketimpangan dalam keluarga. Lelaki sebagai Anak ni Raja sangat disanjung, tetapi kebanyakan istri kehilangan makna sesungguhnya sebagai Boru ni Raja. Tidak ada lagi keseimbangan. Seringkali,  seorang istri harus merasakan tekanan dari suami baik fisik maupun mental. Tapi dia hanya bisa diam, menerima begitu saja dan bertahan demi menjaga nama baik dan amanat dari orang tua. Haknya seakan-akan dirampas, dia harus benar-benar tunduk dan terima apa pun yang terjadi. Karena dia sudah terikat perkawinan dengan sang suami. Banyak kejadian seperti ini yang kutemui, dan hampir seluruhnya berkata, “Mau apalagi ? Saya sudah terlanjur menikah dan saya tidak mau mempermalukan suami juga orang tua saya. Yang penting saya masih bisa bersama anak-anak.”

Ketakutan yang utama adalah takut dipisahkan dari anak-anaknya. Karena bagi seorang wanita yang sudah menikah dan punya anak, kekuatan utamanya adalah anak-anak. Hal ini karena wanitalah yang mengandung dan melahirkan, jadi mereka sudah merasakan sakitnya memperjuangkan kehidupan bayi yang akan lahir dan ikatan bathin yang sudah terjalin sejak bayi dalam kandungan. Tetapi ini juga yang menjadi kelemahan, sehingga tidak berani protes walau sudah diperlakukan dengan semena-mena.

Aku tidak menutup mata dengan kenyataan lain bahwa banyak juga wanita yang sudah menyalahi kodratnya. Tetapi dalam hal ini, aku hanya ingin mengungkapkan perasaan tidak terima dengan status wanita yang seringkali lemah di dalam rumah tangga. Seharusnya, kaum pria sebagai anak ni Raja dapat bertindak bijaksana. Karena seorang Raja adalah Pemimpin, teladan dan mempunyai wibawa. Bukan sebagai seorang diktator yang menganggap dirinya sangat berkuasa dan dapat berbuat sesuka hati.. apalagi kalau ringan tangan, sungguh memalukan dan sikap seorang pengecut.

Aku yakin, wanita tadi sudah benar-benar tidak tahan dan putus asa sehingga dia memilih untuk lari dan meninggalkan keluarganya. Berbagai macam pikiran berkecamuk. Aku khawatir wanita itu akan nekad dan mengambil jalan pintas. Mungkin dalam pikirannya sudah tidak mengingat anak-anak yang ditinggalkan di rumahnya, baginya yang penting pergi sejauh mungkin dari suami. Sebuah keputusan yang berat. Dia merasa sendiri dan tidak ada tempat berlindung.

Sampai kapan hal ini seperti ini akan terjadi ? Kita tidak akan pernah tahu. Banyak juga keluarga yang bahagia dan dapat menyelesaikan masalah delam rumah tangga dengan baik-baik. Menurutku ini dikarenakan Pria yang menjadi Kepala rumah tangga sudah bisa memahami dan menjalankan kedudukannya sebagai seorang anak ni raja. Jadi dia akan berusaha bersikap bijaksana. Bukan lagi sebagai penguasa. Dan bagi kaum wanita, seharusnya pemahaman sebagai boru ni raja adalah untuk menjadi wanita seutuhnya yang akan menjaga dan menghormati keluarga itu sendiri terutama suami sebagai pemimpin. Bukan terima begitu saja pelakuan semena-mena. Jangan hanya menganggap bahwa wanita itu memang lemah terutama dalam berkeluarga. Bukan juga mau menyalahi kodrat sehingga memaksakan diri untuk menyamakan kedudukan dengan suami. Harusnya ada keseimbangan dalam hal-hal tertentu…

Bagi kaum wanita yang membaca tulisanku ini, aku hanya mau berpesan ; “Jangan mau jadi wanita lemah, tetapi jangan juga melupakan kodrat kita. Kita juga berhak untuk protes kalau memang harga diri dan martabat kita sudah tidak lagi dihargai.” Dan bagi kaum pria : “ Jadilah anak ni raja yang bijaksana dan bisa menghargai wanita.”

Ketabahan Mereka Menamparku…

     Beberapa hari ini, marak diberitakan di berbagai media cetak dan elektronik tentang seorang bocah kecil berusia 5 tahun, berasal dari salah satu kampung di Tarutung  yang diduga mengidap HIV/AIDS. Bocah yang disebut bernama Andi Hutauruk sudah menjadi yatim piatu sejak ayahnya meninggal beberapa tahun lalu dan disusul ibunya bulan februari 2009. Sungguh ironis dan menyedihkan nasib bocah ini juga saudaranya.

     Dari tulisan yang ada di koran, kemungkinan bocah ini terinveksi HIV/AIDS dari sang ibu. Hal ini diutarkan Saudara perempuan dari ayah (namboru) bocah ini, yang bernama D br Hutauruk. Menurut sang namboru sekitar tahun 2002 terjadi pertengkaran antara orang tua bocah ini, yang mengakibatkan ibunya melarikan diri dari rumah. Tetapi setahun kemudian ibunya kembali dan berkumpul lagi dengan keluarganya. Kemudian lahirlah Andi, tapi tidak berapa lama ayahnya meninggal.

     Sungguh malang nasib bocah ini, karena masyarakat di sekitar tempat tinggalnya tidak dapat menerima kehadirannya yang diduga mengidap penyakit berbahaya ini. Tetapi kita tidak dapat menyalahkan juga, karena sampai saat ini, masih banyak kesimpangsiuran tentang virus HIV/AIDS ditengah masyarakat terutama daerah yang masih terpencil. Hal ini disebabkan kurangnya sosialisasi mengenai penyebaran virus mematikan ini.

     Untuk saat ini keluarga boleh benafas lega karena RSU dr Pirngadi Medan, mau menerima dan merawat bocah ini. Ditambah kepedulian dari masyarakat yang sudah menjenguk bocah ini, diantaranya Wakil Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujonugroho ST. Boleh jadi, kunjungan dari berbagai pihak dan kalangan masyarakat akan meringankan beban keluarga, terutama mengikis perasaan terbuang yang sempat mereka terima dari tetangga di kampung.

     Tetapi yang membuat saya salut, hormat dan terharu adalah sikap abang bocah ini yang bernama Afles. Bocah berumur 11 tahun ini rela meninggalkan bangku sekolah demi mendampingi sang adik. Bahkan dia mengatakan akan kembali sekolah jika adiknya sudah sembuh… Sungguh tulus dan polos pemikirannya. Kita sendiri mengetahui dengan jelas jika suatu hari nanti adiknya positif mengidap HIV/AIDS, maka kemungkinan untuk sembuh sangat tidak mungkin. Rasa sayang dan tanggung jawab sebagai anak tertua dan sekarang menjadi orang tua, telah mendewasakan sebelum waktunya. Jika anak seumurannya masih asyik bermain dan bermanja ria di tengah keluarga, tapi Afles harus menghadapi kepahitan dan bertarung dalam hidup ini. Harapan akan kesembuhan sang adik menjadi prioritas utamanya. Dia tidak merasa rugi harus kehilangan masa kecil untuk belajar dan bermain demi melihat sang adik tersenyum dan tertawa lagi.

     Seperti yang dia katakan, bahwa adiknya memang susah tersenyum tetapi paling suka tertawa, dan kalau sudah tertawa maka adiknya akan tertawa dengan suara kuat… Betapa dia mengenal dan merindukan karakter sang adik.. Kerinduan yang pastinya dia rasakan juga kepada kedua orang tuanya. Tapi dia berusaha tabah. Dia benar-benar berserah pada nasib dan kerasnya kehidupan ini. Dia sangat mengasihi adiknya dan hanya itu satu-satunya miliknya yang paling berharga.

      Aku jadi merasa malu dengan sosok Afles, karena di usiaku yang sudah sedewasa ini ternyata belum membuatku benar-benar jadi orang dewasa. aku masih sering merasa kalah dan patah semangat. Aku masih sering menyalahkan keadaan dan merasa hidup tidak adil. Keegoisanku sangat luar biasa. Aku sibuk memikirkan diri sendiri dan takut menghadapi kegagalan. Sungguh memikirkan hal ini membuatku terpukul.

     Berita tentang bocah yang diduga mengidap HIV/AIDS dan ketabahan Afles telah membuatku semakin merenungi perjalanan hidupku. Aku telah kalah dari kedua bocah ini. Cerita tentang kehidupan mereka adalah tamparan bagi diriku. Aku merasa sangat munafik. Di depan orang banyak, aku kelihatan sangat kuat dan serba bisa. Tetapi tidak seorang pun tahu, sebenarnya aku ini adalah sosok yang sangat RAPUH… Semua hanya tameng untuk menutupi kelemahanku. Aku harus bisa meneladani ketabahan dan ketulusan kedua bocah ini… Itu adalah tekad yang kutanamkan dalam diriku saat ini…

     Sesaat sebelum tidur, aku menitipkan doa buat kedua bocah ini. aku percaya, apapun yang akan terjadi nantinya adalah jalan terbaik yang Tuhan beri bagi mereka…  Aku ingin secepatnya kembali ke Medan, aku ingin berjumpa kedua bocah ini. Mereka adalah malaikat kecil yang hadir dalam hiruk pikuk dunia ini, yang mungkin bisa membuat kita kembali peduli kepada sesama dan belajar untuk menjalani hidup dengan tabah. 

Afles dan Andi…. Terima kasih telah mengajariku arti ketabahan dan ketulusan… Semoga Tuhan memberi yang terbaik bagi kalian….

    

Kata Hati….

Rasa itu….

 

Sakit hati yang kurasakan, telah membuat duniaku begitu gelap

Kemarahan berbaur dengan asa yang hilang..

Aku merasa linglung dan tiada semangat..

Hanya kemarahan yang selalu menyelubungi hatiku..

Airmata menjadi teman setiaku…

Kebersamaan yang sekian lama, hilang hanya sekejap.

Kecewa, dan hampa…..

 

Aku merasa tidak mampu lagi untuk bertahan,

Aku sampai di titik jenuh..

Aku hanya ingin mengubur semua kenangan dan sakit hati…

Aku merasa sendirian dan tidak ada yang bisa mengerti..

Aku terlena di duniaku sendiri..

Aku bersahabat dengan kesunyian…

Aku tak ingin seorangpun yang mengusik keheningan ini..

 

Aku merasa marah…

Aku protes pada Tuhan…

Aku ingin keadilan…

Aku ingin semua berbalas….

Aku ingin dia juga merasakan sakit ini…..

Aku menuntut kebahagiaanku….

Dalam tiap doa, hanya kepedihan dan airmata yang sanggup terucap…

 

Saat aku merasa duniaku makin gelap…

Secercah cahaya muncul …

Awalnya aku tidak suka mereka masuk dalam duniaku yang sepi.

Aku tidak ingin dikasihani…

Tapi kegigihannya membuat kesombonganku runtuh..

Kepedulian serta kecuekannya, membuatku menjadi penasaran..

Nasehat dan gurauannya membuatku melupakan semua sakit hati..

Kesederhanaan dan kedewasaannya, membuatku merasa nyaman..

Aku menemukan keceriaan, semangat dan kebahagiaanku yang sempat hilang..

 

Aku tak tahu..

Aku takut…

Aku belum siap…

Untuk menyadari semuanya…

Semua begitu cepat…

Aku takut bermimpi dan berharap lagi…

Aku takut untuk kecewa lagi…

Rasa itu….

Akhhhhh….. membuatku gamang…

 

Tuhan….

Beri aku jawaban….

Jangan biarkan aku kecewa dan sakit hati lagi…

Aku ingin berharap tapi aku tak ingin jadi pemimpi….

Aku hanya ingin bahagia…

Tolong aku ya Tuhan…..

 

 

 

 

 

 

Perjalanan Hidupku 2 Tahun Di Negeri Jiran

Awal Perjalananku…..

 

            Kamis, 12 Oktober 2006 pukul 19.15 WIB adalah jadwal keberangkatanku ke Kuala Lumpur. Di sinilah awal perubahan dan pengalaman hidup yang ga akan pernah kulupakan.  Seperti biasa atau tepatnya kebiasaan di negara ini, pesawat ditunda atau bahasa kerennya delay sampai jam 9 lewat. Aku yang berangkat bersama 3 temanku yang juga akan bekerja di Agensi Pekerja Rumah Tangga Philimore Sdn Bhd membawa 6 TKW. Mungkin saat itu wajahku sama saja dengan rombongan kami lainnya. Wajah yang mencoba membayangkan kehidupan seperti apa yang akan kami temukan di Negara orang. Oya, aku berangkat ke KL sebagai Counsellor yang akan membantu para TKW yang bermasalah dengan majikan. Setidaknya itulah gambaran yang bisa kuterima dari kantor kami di Jakarta. Akhirnya. Setelah menunggu hamir 3 jam lebih, terdengar suara petugas mempersilahkan semua penumpang masuk ke pesawat.

 

Setelah duduk dengan nyaman dan memasang sitbelt, aku memejamkan mata dan berdoa semoga Tuhan menjaga kami samapai ke tujuan. Perlahan tapi pasti, pesawat mulai berjalan dan akhirnya meninggalkan landasan. Mataku terus menatap keluar, dan saat aku mengucapkan selamat tinggal negaraku, tanpa terasa airmataku menetes dan berubah menjadi sebuah tangisan kecil. Yah, perasaanku teramat pilu karena aku akan meninggalkan negara ini dan orang-orang yang kucintai selama 2 tahun. Sedihnya lagi, aku ga sempat pamitan langsung dengan orangtua, sahabat dan seseorang yang kukasayangi. Karena semua keputusan ini kuambil secara spontan.

 

Pukul 24.19 waktu setempat (di KL 1 Jam lebih awal) akhirnya pesawat mendarat dengan selamat. Memasuki bagian kedatangan, aku mulai merasakan hawa kurang bersahabat dari petugas imigrasi. Cara mereka menyuruh kami berbaris, sangat kasar. Lalu aku melihat sekeliling, di samping kami ada serombongan wanita bermata sipit yang belakangan aku tahu mereka adalah warga Negara Vietnam, disuruh jongkok sambil menunggu agensinya menjemput. Mulai terdengar suara bentakan dari petugas Imigrasi. Salah sedikit saja, sudah membuat para petugas ini marah-marah. Aku lihat para TKW yang ikut bersamaku,  wajah mereka memancarkan kebingungan dan ketakutan. Mau coba membantu untuk menjelaskan, petugas imigrasi malah mengusirku. Sampai akhirnya, perwakilan dari agensi datang dan semua urusan selesai.

 

Hampir 1 jam jarak yang kami tempuh dari KLCC airport ke Klang Lama atau sering disebut OUG, lokasi agensi sekaligus training center yang akan menjadi tempat tinggalku selama 2 tahun. Pukul 2 dinihari, kami sampai juga di training center. Setelah bersay hello dengan trainer yang menyambut kami, akhirnya bisa juga beristirahat di kamar yang sudah disediakan. Tapi sampai pagi, mataku ga bisa kupejamkan. Aku merasa ada yang hilang dari dalam diriku.. Aku hanya bisa berdoa semoga Tuhan yang akan selalu mendampingiku selama di perantauan ini.

 

 Jumat, 13 Oktober 2006 pukul 9.00 AM, salah satu trainer membawa aku dan 3 temanku ke office. Kami pun diperkenalkan dengan seluruh staff dan juga dijelaskan apa saja tugas yang harus kami kerjakan di agensi ini. Aku diperkenalkan dengan Madam Patricia, dia adalah Counsellor senior dan aku akan mendampinginya selama 2 tahun ke depan. Hmmm, mulai hari ini perjalanan hidupku akan dimulai di Negara jiran ini…

 

Pekerjaanku….

 

Setelah aku diperkenalkan dengan Mdm Pat, aku diperkenalkan dengan Counsellor yang akan kugantikan posisinya di office ini, namanya Kak Nuri, dia sudah bekerja kurang lebih 6 tahun. Dia banyak bercerita suka duka pekerjaan seorang counselor yang juga merangkap sebagai trainer bagi TKW yang baru datang atau biasa disebut new maid. Selain konseling, aku juga diajari untuk melakukan paper work atau memasukkakn semua data TKW yang majikan antarkan untuk konseling, baik dalam buku maupun komputer.

 

Aku juga harus belajar untuk melakukan training buat TKW yang tidak pandai bekerja sehingga majikan mengembalikan ke agensi. Awalnya, aku merasa sangat berat karena boleh dikatakan aku belajar secara mandiri, karena semua orang sangat sibuk sehingga tidak ada waktu untuk menunjukkan apa saja yang harus kukerjakan. Ternyata bekerja dengan orang-orang di office ini termasuk sangat berat. Boleh dikatakan sebagian dari staff pelit untuk mengajari. Yang ada hanya complaint dan kemarahan kalau yang kita kerjakan salah padahal tidak semua pekerjaan boleh secepat kilat kukuasai. Belum lagi aku harus  mempelajari bahasa melayu yang masih aneh di telingaku.

 

Tugas utamaku sebagai seorang counselor antara lain : menyelesaikan masalah antara majikan dan TKWnya yang meliputi performance/tingkah laku, hardskill/keterampilan, hygene/kebersihan, kesehatan TKW, sampai hal terkecil seperti kebiasaan TKW yang kurang bisa diterima majikan. Selain itu, kalau ada TKW yang mengalami masalah kesehatn dan masih bisa ditangani dokter yang telah dipercaya agensi dan bukan penyakit berbahaya atau menular, maka aku harus merawat dan mengawasi sampai TKW tersebut sembuh.

 

Yang paling berat adalah kalau ada TKW yang mengalami mental problem atau tekanan jiwa, maka semua proses dari Dokter klinik sampai dengan membawa ke Rumah Sakit Jiwa adalah tanggung jawabku. Padahal aku sangat takut jika berhadapan dengan orang gila. Saat-saat seperti inilah yang paling menguras tenaga dan pikiran. Karena sebelum memutuskan si penderita tekanan jiwa harus masuk RSJ, maka aku harus melakukan observasi selama dia tinggal bersamaku di training center.

 

Kukatakan berat, karena adakalanya TKW tersebut mengamuk, menjerit, tertawa dan melakukan berbagai hal yang sangat mengganggu dan cenderung berbahaya. Di sisi lain, aku harus menjaga kenyamanan TC dan TKW lain yang kebetulan juga dititip majikan untuk tinggal di agensi selama masa konseling. Bahkan tidak jarang, dia akan menyerang dan melukai TKW lainnya. Ini berarti, waktu istirahat malam pun akan berkurang. Tidak jarang, aku terpaksa harus menahan rasa ngantuk karena harus menjaga agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Awalnya semua terasa berat dan menakutkan, tetapi aku harus mampu bertahan. Aku harus buktikan pada semua orang bahwa aku bisa dibanggakan. Yah, rasa takut harus kulawan dengan semangat dan keoptimisan.

 

Ternyata, tidak mudah jalan yang harus kutempuh. 2 bulan pertama adalah masa yang terberat dan penuh air mata. Tekanan demi tekanan hampir membuatku menyerah dan ingin pulang ke tanah air. Hampir tiap hari aku menangis, dan menyesali keputusanku. Saat itu, aku hanya ingin pulang dan merasakan kedamaian di tengah orang-orang yang mencintaiku… Aku hanya ingin meninggalkan semua orang yang tidak pernah menghargai jerih payahku, walau aku sudah berjuang mati-matian. Wajar kalau aku melakukan kesalahan, karena aku masih baru dan belajar sendiri. Tapi itu tidak jadi alasan. Aku mau bekerja sampai koleps, tetap aja dipandang sebelah mata. Aku benar-benar menyerah dan mengadukannya pada Bapakku.

 

Ternyata jawaban yang kuterima diluar dugaanku. SMS yang bapak kirimkan berbunyi seperti ini, “ Yang pertama, camkan hidup ini sangat berat..Apalagi di rantau orang. Pejuangan, keuletan dan ketabahan sangat dibutuhkan. Bapak dalam bekerja punya motto : Ibarat kerbau, biar dipekerjakan sesusah apapun, sampai moncobg dipijak ke tanah tapi tanduk tetap menghadap ke atas siap menusuk dan akan menjadi pemenang. Mereka harus mengakui siapa saya dan tergantung kepada saya. Yang kedua, Tak ada pelaut ulung yang dilahirkan dari laut yang tenang. Mereka selalu dilahirkan dari samudera yang penuh terpaan badai, gelombang dan topan. Yakini itu dalam hidup kita, supaya semangat tetap terpelihara..”

 

Kaget…. Itu yang kurasakan saat membaca sms itu. Aku merenunginya dan entah dari mana, seperti ada semangat yang menyala-nyala dalam diriku. Aku merasa tertantang dan saat itu juga aku hapus air mata dan berkata kepada diriku sendiri, “Aku harus bangkit dan menunjukkan kwalitas diriku yang akan membuat semua orang menyesal pernah meremehkan dan menyakitiku..” Timbul rasa gengsi dalam diriku, Mereka jual, aku beli… Ga seorang pun bisa merendahkan seorang Farida Simanjuntak…

Walau terkesan sombong, tapi itu yang pada akhirnya mampu membuatku bertahan sampai 2 tahun 1 bulan di Negara Jiran.  Dan pada akhirnya, mereka mengakui kwalitas pekerjaanku. Walau bersikap normal, tapi ada kebanggan terselip dalam diriku bahwa aku bisa membuktikan seorang wanita Indonesia juga patut diperhitungkan…

 

            Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi bersikap cengeng dan menyerah. Seberat apapun pekerjaan yang mereka beri kuterima dan kulaksanakan sebaik-baiknya. Ternyata hal ini membuat mereka “mengakui” usaha yang kulakukan. Yah… ini yang kumau “Pengakuan” bukan hardikan dan kesengajaan untuk mencari kesalahan dari suatu pekerjaan. Setelah 1 tahun bekerja di sana, aku merasa semakin pekerjaan yang kulakukan bukan lagi masalah besar. Padahal, semakin hari pekerjaan yang dibebankan padaku semakin berat dan bertumpuk. Dibalik ketegaranku, aku bersandar pada kasih sayang Tuhan dan cinta dari keluarga dan sahabat-sahabatku.

 

            Sejak bekerja di KL, aku juga mempunyai banyak sahabat yang luar biasa. Dan perkenalan itu dimulai di dunia maya yang bernama internet… Hmmm, sisi positif yang membuatku semakin mensyukuri pahit manisnya kehidupan ini. Selain itu, aku juga semakin mengenal ragam kesulitan hidup yang dirasakan dan dialami para TKW (akan kuceritakan dilain waktu). Bagiku, mereka adalah cermin dan kenyataan dari kemiskinan dan ketidakberdayaan kaum wanita. Mereka adalah guru yang mengajariku untuk mensyukuri hidup yang telah kurasakan selama ini. Mereka menjadi cambuk bagiku, untuk tidak menyerah kepada kesulitan hidup karena apa yang kurasakan tidak seberapa dibandingkan kepedihan hidup mereka. Dan aku semakin teguh untuk berdiri dan siap menghadapi badai yang akan menerpa di tiap episode kehidupanku…

 

            Terlalu banyak pengalaman yang kurasakan selama di KL dan aku ga akan pernah menyesalinya. Justru aku sangat mensyukurinya, karena aku bisa belajar berdiri di atas kaki sendiri, menghadapi masalahku sendiri bahkan masalah orang lain adalah tanggung jawabku, dan aku bisa memiliki keberanian seperti saat ini. Aku bukan lagi pribadi yang gampang menangis dan menyerah. Tapi negatifnya, terkadang aku menjadi terlalu mengandalkan kekuatanku dan sungkan minta bantuan orang lain. Aku merasa hidup adalah kompetisi yang harus kumenangkan. Padahal, hal itu kurang baik, karena aku juga masih punya banyak kelemahan dan butuh bantuan orang lain.

 

            Tanggal 06 November 2008, pukul 07.10 AM, pesawat yang kutumpangi tinggal landas dari KLCC airport menuju Medan… Yah, setelah 2 tahun lebih tidak pernah pulang, aku akan segera bertemu dengan orang-orang yang kukasihi dan kurindukan. Ada yang unik saat kepulanganku, tidak seorangpun mengetahui kepulanganku.. Yah.. aku tidak memberitahukan siapapun, aku ingin membuat kejutan yang luar biasa. Hasilnya, mama dan bapak tidak percaya melihat kehadiranku di rumah. Kebahagiaan yang tidak dapat kulukiskan, saat berjumpa dengan semua orang, saat menginjakkan kakiku di Negara tercinta terutama di tanah kelahiranku kota Balige dan aku bisa merasakan kembali dinginnya udara di kotaku ini… Pengalaman ini akan menjadi harta tidak ternilai bagiku…

 

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!